Sunday, January 8, 2012

Berdialog dengan cermin #4

Pemahaman 

Karna bukanlah seorang filsuf ataupun seorang yang masuk golongan pemberi nama seperti ilmuwan yang menemukan sesuatu kemudian diberi nama oleh namanya atau seorang penemu yang mempunyai teori mencari dan menemukan sesuatu yang baru 'ilmu pengetahuan' menurutnya, sebuah pembelajaran yang berasal dari kata yang isinya adalah diharuskan untuk belajar atau tuntutan belajar. Mungkin secara realistis akan di bahasakan dalam kata 'makanya'. 

Karna sendiri berjenis kelamin laki-laki menurutnya karena sudah jelas ia tertarik dengan lawan jenisnya yakni perempuan, namun kadangkala ia juga tertarik dengan bahasa-bahasa baru ataupun sesuatu yang ia temukan menurut pemikirannya dan memaknainya dalam rangka mengenal bukan mencintai, begitu juga terhadap lawan jenisnya itu. "Aku sudah cape meng eksplorasi bagian tubuhku sendiri", katanya di sela-sela pembicaraan kami mengenai cinta.

Karna adalah seorang tokoh pewayangan dari golongan kurawa yang rela berkorban demi mempertahankan kurawa, itupun menurut ibunya yang memberi nama Karna karena kecintaan sang orang tua terhadap sosok Karna itu sendiri. Namun Karna dewasa ternyata berbeda dia lebih suka dengan sosok Bima dari ranah pewayangan ini, sehingga mungkin kemudian dia akan merasa pantas saat shakespere berkata "apa artinya sebuah nama".  Dan tentu ia sangat bangga dengan  filsafat bunyi yang menurutnya adalah harmonisasi atau sebagai bentuk 'mengerti' kita. Sebuah nada ada titik merdu ataupun sumbang dan itu diterima oleh telinga kita yang kemudian kita memutuskan nada tersebut merdu atau sumbang, sebuah nada dibilang merdu oleh seseorang belum tentu akan dibilang merdu sama orang lain atau bahkan akan ada yang berkata "merdu sih, tapi maaf bukan seleraku", itu ocehan dia saat kami mendengarkan beberapa sinkopasi jazz di radio transistor pinjaman dari seorang pemusik yang bangga akan kemerduannya.

Sebuah bahasa belum tentu akan menjadi seorang Karna, karena dengan kata saja sudah banyak yang harus dipahami terlebih saat 'mengenal diri' adalah sebuah filsuf dasar terhadap apa dan dari mana kita. Bahkan Karna lebih menyukai istilah 'kopi' dalam bahasanya mengenal hidup, kenapa?. Menurut Karna Kopi itu adalah selera sekaligus juga pemahaman atau cara pandang bahkan sebuah gagasan yang justru selalu ada pro dan kontra. "Bukankah hak manusia untuk memutuskan untuk menerima atau tidak menerima atas dasar konsekwensi mereka terhadap sesuatu yang akan berakibat sesuatu", katanya saat aku lebih memilih kopi yang berwarna lebih coklat setelah dicampur dengan air susu, sementara dia berusaha konsisten dengan 'hitam dan pahit' kopinya. 

Suatu saat dia sangat kesal terhadap kondisi politik yang terjadi di bangsa ini hingga aku menjadi bulan-bulanan bahasa dia terhadap 'birokrasi' dan sebuah tatanan yang menurutnya tidak layak menjadi bahan ajaran dalam sistem pendidikan kita. "Lihat, siapapun presidennya akan tetap tidak baik di mata rakyat karena azas pro dan kontra ini sudah tidak ada harganya!", Dengan ketusnya ia berbicara kemudian menuliskan sebuah kalimat di buku catatannya "Revolusi adalah dasar, sementara dasar dari sistem adalah undang-undang dan undang-undang dibuat oleh orang yang berkuasa oleh uang rakyat. Revolusi adalah perbaikan sistem tapi bukan aturan atau mengganti orang yang terlibat, melainkan wacana dasar pendidikan dimana pendidikan lah yang menjadi dasar sebuah revolusi", begitulah catatan yang ia tuliskan di bukunya, ia pun banyak mngumpat "Kenapa kita tidak berusaha mengenal diri kita sendiri dulu sebelum masuk dalam kancah sosial?! apalagi dasar dari semua kebaikan dan keburukan suatu sistem datang atas personal dan terutama kedisiplinan manusia terhadap sesuatu!!", katanya padaku sambil pergi meninggalkanku.

Karna percaya sebuah bentuksistem adalah sebuah tatanan yang bukan tersistem dalam uraian kertas ataupun tanda larangan yang di pasang oleh petugas disamping-samping jalan, namun ia lebih percaya pada sistem panutan dimana manusia akan menurut terhadap panutan, terlepas baik atau buruknya panutan itu sendiri. "Siapapun pemimpinnya, aku akan tetap mendukungnya jadi baik atau buruknya pemimpin maka kita sendiri yang harus disalahkan dalam teori bahwa manusia tidak ada yang sempurna, maka kita sendiri yang bertanggung jawab mengawal kinerja baik atau buruk dalam kaitan sesama manusia saling mengingatkan", kata-katanya setelah emosinya agak reda setelah begitu banyak pemberitaan demonstrasi yang menghakimi pemimpin.

Karna lebih suka disebut penikmat dibandingkan dengan pecinta ataupun pecandu, dia tak perlu mengetahui siapa penyanyi atau judul lagunya untuk menghayati isi dan alunan musiknya, "semua tergantung dari cara paham bukan idealisme siapa dan siapa!", menurutnya. Dia jelas sekali penikmat kopi, tanpa harus dijelaskan lagi secara realitas karena dia sendiri tidak 'harus' merasa mencari kopi saat tidak ada kopi begitupun dia tidak mencintainya karena 'dia tidak mencari', namun lebih pada ia menikmati kopi yang tersuguh di depan matanya dan menikmati dalam artian pemahaman 'kenapa kopi' atau 'kenapa hidup' bahkan 'kenapa cinta'. 

"Aku bukan social smoker", katanya saat kusodorkan sebatang rokok  untuk 'dinikmati' menurut versinya dan memang saat itu dsamping kami ada beberapa perempuan yang tidak merokok dan memang tidak suka terkena asap rokok. "Nikmat itu kita sendiri dan sakit itu kita sendiri", katanya. Sama halnya seorang Karna dan kopi dia pun hanya mengatakan bahwa dia seorang penikmat tanpa harus mencari atau 'harus' mencari apa yang disebut  kenikmatan.

Jangankan untuk terlambat dengan tanpa kabar, terlambat dengan berkabarpun masih saja aku kena ocehannya tentang konsistensi terhadap waktu dan disiplin diri.  Dilingkungan Karna menurut nilai sosial dia tidak dikategorikan dengan anti-sosial namun lebih pada kehidupan sosial seperti apa yang mau ia masuki, "Aku belum mengenal diriku, kenapa aku harus mengenal orang lain? suatu saat dia akan terluka atau aku yang terluka dengan bahasa kami yaitu aku dan dia", alasan Karna. 

"Bahasa tidak bisa disebut suara karena orang bisupun bisa berbahasa, komunikasi juga bukan suara tapi lebih pada kata arti dari paham atau teori aksi dan reaksi yang berbanding lurus dengan teori realitas. Seseorang bicara maka yang lain mendengarkan, seseorang berbuat sesuatu maka itupulalah yang akan ia dapatkan", menurut Karna.




No comments:

Post a Comment