Thursday, January 5, 2012

Berdialog dengan cermin #1

Rusdi dan Terompet tahun baru

Sebentar dalam waktuku adalah beberapa menit saat hujan malam itu selalu turun di penghujung Desember, saat semua orang meayakan waktu dan saat orang memulai rencana besar dalam hidupnya. Waktu yang sebentar itu bukan seharusnya karena semestinya ada bahkan sadar bahwa kalimat yang sewajibnya juga sudah ada sejak tahun-tahun lalu entah kalendar masehi atau tahun islam atau bahkan kalendar china sekalipun ternyata hanya merubah angka sebagai penandaan waktu terhadap rotasi bumi yang bergerak siang dan malam. Namun ternyata bukan hanya itupula seperti menuanya kulit atau pohon-pohon yang bertambah tinggi dan dinamakan dengan tumbuh. 

Rusdi hari ini membeli terompet, menurutnya dia ingin mengusir setan dengan terompet itu, padahal sehari sebelumnya Rusdi sempat merengek pada orangtuanya untuk membelikannya sebuah terompet untuk merayakan tahun baru yakni 1 Januari per tahun masehi ini di Alun-alun kota. Ibunya adalah orang yang kurang mampu namun begitupun karena kecintaannya pada anaknya maka dia pun masih menyimpan terompet bekas tahun kemarin karena ia sadar bahwa tahun ini anaknya pasti akan meminta terompet. Namun ternyata Rusdi tidak mau memakai terompet tersebut.

Rusdi beralasan bahwa tahun baru adalah terompet baru, begitupun dengan resolusi baru, rencana baru dan sebagai ajang untuk memulai hidup dalam satu tahun mendatang. Tentu karena hal ini tidak bisa dipenuhi oleh ibunya Rusdi menangis sejadi-jadinya hingga akhirnya sang Ibu harus menjual baju bekas di pasar untuk menyayangi anak semata wayangnya yang kini berusia 10 tahun itu. 

Hari itu tepat pukul 00.00 semua memeriahkan tahun baru dengan suara terompet dan kembang api yang menyala-nyala di Angkasa, semua orang bergembira dan bersuka cita, begitu juga Rusdi ditemani ibunya yang nampak murung dan cemas bergembira di Alun-alun kota. Para penjual menjajakan dagangannya, anak-anak berlari kesana kemari dengan mengundang beribu harapan bahwa tahun ini akan lebih baik dari tahun kemarin, sementara sang ibu hanya diam mengawasi Rusdi yang sedang meniup terompet tahun barunya dengan segenap tenaga yang ia miliki. Harapan sang Ibu hanya satu saat itu yakni supaya Rusdi tidak meminta jajan malam itu, maka sang Ibupun merapal do'a sebagai harapan tahun barunya. Sang Ibu tentu bahagia dengan melihat anaknya senang dan bersuka cita, terlebih saat ibunya membelikan terompet barunya seharga 15 ribu rupiah walaupun Sang Ibu masih menatap kosong untuk besok, hari esok baginya adalah sosok menakutkan karena entah bisa makan atau tidak. 

Suara kembang api masih saja menggelegar dan memberikan warna tersendiri pada pergantian tahun malam itu sepertinya tidak ada orang yang berduka dan atmosfir yang dipenuhi oleh semangat-semangat yang bercahaya dan penuh dengan tawa. 5 menit berlalu saat ibunya masih melamun menatap kosong di udara yang penuh dengan warna. Rusdi terlepas dari pandangan Ibunya, hingga semua orang berteriak histeris saat sebuah kembang api yang meledak diantara keramaian. Serta merta sang ibu mencari Rusdi namun tidak menemukannya  dan memasuki kerumunan manusia yang sedang berkumpul, Sang Ibu melihat Rusdi tergeletak bersimbah darah dengan tangan yang memegang erat terompet Tahun barunya itu.

Rusdi meninggal malam itu karena shock setelah mengambil kembang api yang meledak persis ditangannya. dan betul harapan sang Ibu, bahwa Rusdi tidak pernah meminta jajan malam itu bahkan malam keesokan harinya.


No comments:

Post a Comment