Tuesday, December 6, 2011

un-titled

Dia bersandar pada geladak kapal yang dia lihat sudah tidak melaut selama beberapa pekan, senja itu pukul 18.30 selepas maghrib baru saja menyerukan panggilan umat islam bersembahyang. Sebelumnya ia berangkat dari dunia kecil yang ia sebut sebagai surganya, sebuah rumah kecil beranyamkan bambu dengan beberapa cangkir kopi dan sebuah perapian yang ia gunakan untuk menghangatkan diri, ia berangkat menuju mushola yang tidak jauh dari rumahnya berwudhukan air laut yang semakin hari semakin hitam tergores tinta-tinta yang berasal dari limbah industri di Ibukota. 

Bersujud kemudian memenuhi panggilan adzan dan memenuhi hak seorang manusia untuk beribadah kemudian berkeluh kesah terhadap Sang Pencipta Allah SWT. Beberapa menit kemudian langit kian hitam berselimut mendung laksana kelam hati dan pertanda akan turun badai besar, gunturpun bertalu bak genderang perang namun ia tidak memperdulikannya. Melangkahlah ia pada sudut geladak kapal yang renta bukan karena usia namun karena terlantar serta 'diam' yang menjadikan renta serta hampir mati dan tenggelam.

Hampir malam itu telah gelap dan guntur tetap membahana pada titik pandang sebelah barat dimana matahari bukan tenggelam namun dialah yang bergerak makin ke timur. Dia tidak mau bercanda pada kelelawar malam saat itu saat memandang beberapa kawanan kelelawar yang baru keluar dari sebuah gua disebelah selatan kota nelayan yang ia duduki saat ini.

Hari itu tanggal 16 Februari, tepat 5 tahun saat dia memutuskan untuk hidup sendiri, orang terkasihnya pergi meninggalkannya dan keluarganya 'diam' melempar senyum yang tak tergambarkan, sebuah proses yang menururnya ia harus temukan pada sisi pandang yang mungkin kelak akan berbeda dari sebelumnya. Sebuah bentuk kesempurnaan seorang manusia terhadap anugrah dan pikiran yang ia miliki yakni kecintaan, cinta yang beralaskan sandal jepit dan berpakaian kesederhaan pola pikir serta ingatan pada keberadaan manusiawi ditengah bumi yakni Cinta pada Sang Penguasa Alam.

Ia bahkan tidak memotong rambutnya, hingga panjang terurai mengenai batas pinggangnya dan dengan elok diikatkan seolah seorang pertapa yan hanya bisa diam dan bertanya 'siapakah saya?'.  Sedikit gerimis saja tidak membuat ia beranjak seperti angin yang kadangkala menerjang wajahnya, ia lebih pilih untuk diam saat harus bertanya 'kenapa?'. Sepersekian menit saja geladak kapal sudah dipenuhi air karena nada hujan yang meninggi dan memperbesar volume guntur yang kini bukan lagi sekedar genderang perang yang sebentar bertalu untuk kemudian berhenti saat ada yang mati, ia kini bertalu bersahutan membentuk irama dentuman meriam perang dimana jarak dari kilatan cahaya dan sumber bunyi sudah semakin dekat dengan ulu hati.

Dia masih tidak beranjak menunggu pagi, namun jam baru saja menunjukan pukul 18.45 yaitu 15 menit tepat saat dia duduk di geladak tersebut. Dia pejamkan mata dan mengadah ke atas, sementara itu air hujan makin menghantam wajahnya dan menambah keriangan suara saat air hujan bertubi-tubi menghantam kayu-kayu penopang geladak tersebut. 

'Hanya satu mata kaki' ujarnya. 

Tak lama berselang hujan berhenti kemudian dia membuka matanya, tapi yang terlihat adalah segaris warna merah secara remang-remang berada diatasnya, dia menengok kekiri tubuhnya dan ternyata hujan belumlah berhenti, saat dia menengok sebelah kanannya berdiri seorang perempuan berpakaian merah memegang sebuah payung yang kemudian ikut melindungi wajahnya dari terpaan hujan.

'Siapakah dia?' tanyanya, lalu dia berusaha memandang wajahnya yang samar karena gelap dan terlihat senyumnya saat kilat menyambar. Sang perempuan kemudian berkata 'Jika waktu adalah diam maka tak pernah kau temukan dirimu, namun jika siang tadi adalah waktu lima tahun yang kemarin maka air hujan ini adalah air yang berbeda bahkan air pada tepian laut ini, tidaklah kau lupa demi mencintainya?'. 

Lelaki itu kemudian menunduk, kedua tangannya memegang lutunya dan membenamkan wajahnya pada kakinya. '1 jam sudah aku disini sementara hujan belum berhenti' katanya. Namun ketika ia mengadahkan wajahnya, bukan malam yang ia temui namun fajar pagi hari, rona merah sebelah timur sudah mengganti hari itu. Bahkan terlihat beberapa kawanan kelelawar telah kembali dan saat menoleh ke kanan ia tak dapat menjumpai perempuan itu, dia berusaha menengok kiri kanan tanpa bangkit, kedua tangannya masih menempel pada lututnya, 'dia hilang'. 

Dia tertidur atau bahkan tidak sadar sementara waktu kian berganti, satu jam saja ternyata menggantikan satu hari ingatan dia saat hujan menerpa tubuhnya. Tubuhnya pun sudah kering saat matahari merangkak naik dan dia sadar. Bahwa waktu adalah waktu, yang terlewati ataupun dia lewati sementara yang akan terlewati adalah esok hari tanpa sadar.

Hingga kemudian bergema adzan shubuh, sebuah panggilan yang tidak pernah berhenti bahkan oleh rotasi bumi sekalipun. 'Maafkan aku Tuhan' ujarnya dalam diam. 

Dia bangkit mengikuti waktu.

No comments:

Post a Comment