Wednesday, December 21, 2011

Mata

Tidak ada seperkasa mata yang juga bukan berdiri atau harus tertutup karena angin. Aku bicara karena mulut terkatup bukan mata yang menutup lalu berargumen dengan pandangan sehingga timbul sebuah gerak resonansi antara kesepadanan gerak mata, berbicara atau berpikir dari apa yang di pandang kemudian menilai dan memutuskan terlepas sebelah sisi mana mata yang melihat.

Seorang pengayuh sepeda bernama Jill mempunyai mata dan dalam hal ini kepada matalah ia menggantungkan sejauh mana dia bisa bergerak cepat dan sejauh kaki mengayuh pedal. Suatu hari dia bertemu dengan Ken, seorang pemuda yang berasal dari golongan kaya, ia mempunyai mata sipit hingga terkesan saat ia beremosi dia seolah tidak mempunyai mata. Jill setiap hari bertemu Ken disebuah warung kopi ujung jalan setelah beberapa putaran melintasi kota yang dipikirnya sudah tak layak menjadi kota tempat manusia.

Jill bercerita pada Ken bahwa yang dilihatnya hari ini adalah lebih dari cara pandang atau jalan hidup seseorang, ketika menilai ia menggunakan mata, saat marah matanya nampak seperti bola tenis namun ketika ia menangis matanya bisa sayup dan siapapun yang melihatnya akan seolah terjun pada kubangan air matanya. Jelas Ken mencibir Jill tentang peryataan bahwa mata adalah segala pikir tentang memandang. "Aku bisa membuat kebijakan tanpa menggunakan mata!" Kata Ken pada Jill.

Ken mempunyai mata tapi bukan secara harfiah mata karena ia berpikir menggunakan nurani, bahkan ia lebih pilih menangis saat ia marah karena menurutnya manusia tidak berhak marah karena sisi kemanusiaan dan kedamaian adalah subjek utama yang ia terapkan pada sistem mata. Ken adalah seorang laki-laki dan kemudian membuat nilai ia adalah laki-laki cengeng dan emosional, walaupun Ken tidak pernah peduli hal tersebut namun tanpa disadari hal tersebut pulalah yang melahirkan salah satu cara pandang manusia. 

Jill lebih diam, namun karena ia senang dengan sisi kemanusiaan Ken maka ia pilih sebagai penutup kekurangan ia yang bermain dengan cara pandang yang berbanding lurus dengan logika. 

Mata, pandangan, cara pandang atau sekurang-kurangnya tidak lebih hanya menilai, saat Ken menilai Jill sebagai individu yang objektif dan subjektif lalu kemudian berargumen kepada Ken bahwa itulah sebuah gagasan hidup, Ken tertawa dengan mata yang bersembunyi. Dan begitupula Jill saat Menilai Ken dari sisi kemanusiaannya sehingga memuluskan nilai bahwa Ken adalah pribadi yang emosional atau lebih tepatnya sentimentil. 

Nilai, bukan kita yang menentukan dan itu sudah mutlak. Orang memandang dengan mata, padahal ia adalah sebuah bentuk dari kejujuran yang memproyeksikan kenyataan yang sesungguhnya terekam oleh otak, namun tetap saja bisa dimanipulasikan otak untuk menjadi sebuah kebohongan ataupun hanya pengharapan. 

Menurut Jill, representasi mata adalah saat melihat laut, tidak berbatas dalam sebuah ukuran, Mata bukanlah bingkai pandangan seperti kotak televisi dimana terdapat batasan yang membingkai pandangan, sedangkan mata? Ia tidak berbingkai dan mempunyai batasan pandang yang tentunya batasan kekuatan tentulah ada namun bukan batasan dalam artian bingkai kiri, kanan dan atas, bawah. 

Menurut Ken, mata hanya sebuah alat peranti merekam seperti indra lainnya yaitu mengidentifikasi visual dan sangat terlepas dari gagasan atau cara pandang, sedangkan menurutnya cara pandang itu bukan kalimat yang secara harfiah terartikan bagaimana cara melihat tapi memandang-berpikir logika dengan mata atau memandang-berpikir-merasakan lewat mata hati. 

Gagasan, cara pandang atau proses berpikir bahkan sebuah alat saja tidak terdefinisikan oleh bagian memikirkan dan proses pikir untuk berpikir dan membuat sebuah wacana apa itu mata. 

Jill dan logika cara pandang atau ken dengan mata hati atau nurani? Mata!

No comments:

Post a Comment