Tuesday, December 13, 2011

Perupa Malam

Tubuhnya menggigil kedinginan di tengah waktu yang ia tidak ketahui, hanya beberapa jam saja setelah malam seperti hari kemarin. Rambutnya terikat tidak rapi tapi menjulur pada ikatan yang membentuk simpul yang kuat dan tegak pada tiang-tiang normatif sebagai pandangan dan tempat menggantungkan berbagai keluhan sementara senyuman tak pernah tertampung.

Kedua tangannya memegang cawan yang berisi daun teh yang hendak dia jadikan segelas teh untuk mengabdi pada dirinya. Tidak saja dia hanya bisa diam karena teh saja bukan menjadi simbol pasti dari suara hati. 

Dia benci malam!

Masa lalu selalu datang membencinya sementara kakinya tak pernah berhenti bergerak menyusuri lorong gelap malam, setengah berlari dan setengah merayap karena kesadarannya telah tergerus waktu.

Mata itu adalah harapan, seperti saat dia memakai baju bru dan tersenyum seperti kau pernah tahu dipertemuan pertama kita. Dan betul itu mimpi. Kuas yang ku sapukan mendadak menjadi wajahmu yang datang lalu aku meneruskannya menjadi malam. 

Aku tidaklah punya cat minyak untuk menarik garis dari titik-titik sketsa saat mata menatapku aku hanya tercengang takjub karena sikapmu., dan kau berkata maaf.  Lalu aku bentangkan satu lagi kanvas di sebelah kiriku berharap kutemukan diriku dalam sisimu sementara aku menatap lukisan yang tidak pernah selesai aku ambil pensilku dan melukis dia yang adalah kamu saat ramah menyapa walau tanpa tertegur aku karena ketidak beradaanku. Satu kali saja bisa membuatku menyimpulkan bahwa kau lebih pantas bersayap daripada berjalan dengan kedua kaki bersamaku.

Hujan sudah tidak pernah datang!.

Kau membenci malam seperti enggan tanpa pikir tapi kau sendiri berharap harus ada yang diakhiri. Lalu aku torehkan tepian-tepian lukisan itu menjadi sebuah cerita tanpa nama, walaupun aku bermimpi itu aku. Yang kulakukan hanya berharap itu aku dan terselesaikan lukisanku.

Seorang putri! atau hanya duplikat dari senyuman monalisa saja yang lebih abstrak tanpa terbaca dengan kata-kata atau terlihat oleh mata?. 

No comments:

Post a Comment