Sunday, December 25, 2011

re-posisi

Zian adalah seorang laki-laki yang memutar langkahnya di atas kursi roda setelah kecelakaan sepeda motor yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Ia adalah seorang pembalap jalanan yang sering kali mempertaruhkan nyawanya demi sebuah nilai atau kehormatan  yang harus ia dapatkan untuk mencapai status sosial di hormati di kalangan remaja seusianya. 

Bagi kalangan Zian mata adalah sesuatu yang berharga sehingga dengan mata ini pula yang menjadikan nilai bagi seseorang termasuk menentukan status sosial antara di hormati atau di hina sebagai seorang yang mempunyai status sosial yang rendah.

Status sosial itu sendiri merupakan sebuah arena penciptaan terhadap golongan yang kemudian menentukan kelasnya. Seorang akan dinilai miskin oleh seorang kaya, entah itu merupakan nilai yang mutlak ataupun abstrak oleh mata yang memandang tapi tidak memahami.

Zian sendiri adalah salah seorang yang selamat dari sekian pembalap jalanan yang kemudian harus berakhir dalam nisan batu yang pada akhirnya tampak sama dan tidak lagi memandang status sosialnya. Sebuah prestise atau gengsi sebagai cakar yang mungkin harus tertancap pada cerita dan kisah satu lajur hidup seorang manusia. Zian adalah orangnya yang telah bertaruh atas nama besarnya demi sebuah nama oleh mata. Memegang kendali sosial dan bertumpu pada apa yang tidak harus dipahami.

Dimana sebenarnya Zian berdiri?

Sekian harga sepeda motornya saja adalah jelas sebuah nilai manusia tapi tidak menentukan ia berdiri dimana, terlebih saat kegagalan itu ada dalam versi sosialita dan realitas sementara nilai realita yang menjadi Tuhan manusia adalah nilai mata.

Jangan tanya nurani manusia? 

Zian adalah seorang pejuang logika dimana kalah adalah mati, tapi kemudian siapa yang menolong saat ia tidak harus mati dan kalah sebagai pecundang diantara manusia? manusia itu sendiri tentunya? tapi akankah Zian menjadi sadar siapa dia diantara manusia? atau lebih jauh memahami bahwa mata adalah hanya gagasan manusia bukan Rencana Tuhan yang tidak mengenal kegagalan.

Dalam satu putaran kursi roda Zian menyebut dirinya melangkah, karena dia tak punya kaki untuk sadar dia tidak berdiri atas keberadaannya dan justru duduk lelah tanpa menapak kemudian menangis untuk sadar bisa berdiri.

Penghargaan yang mana oleh manusia?

Eksistensi adalah presisi dan sebuah posisi menang manusia dan selebihnya adalah sejarah yang harus dimuseum kan bahkan mungkin harus dilelang ataupun masuk kedalam gudang. Apakah itu yang menjadi pencapaian? 

Kesadaran berpikir?


No comments:

Post a Comment