Tuesday, October 25, 2011

Que Sera Sera

Diantara memandang jenuh hujan yang tak kunjung berhenti seorang anak kecil menangis menatap kosong dalam hujan yang tak kunjung berhenti ataupun mereda sementara nyanyian halilintar seolah berteman dengan genderang telinga yang menghasilkan irama bertalu, tak jarang awan yang meraung kemudian menampakan kilat menapakan keperkasaannya pada bumi dalam sepersekian detik kemudian melesat kembali menuju batas angkasa.

Pada secarik kertas dan segenggam crayon seorang anak laki-laki yang melukiskan hujan itu berujar pada crayon berwarna hitam "jika kekelaman masa akan terlukiskan oleh hujan maka berhenti kau disini dan akan ku keluarkan kau dari genggamanku ini sehingga pada masa dewasaku nanti kau hanya menjadi sebidang bingkai yang membatasi lingkup gerakku sebagai manusia".

Tercoretlah kemudian bingkai di tepian kertas yang putih dan kosong seperti sebuah pembatasan waktu dan ruang akan kesadaran mimpi. Anak laki-laki itu kemudian menangis dan tertunduk diam saat gemericik hujan yang membahana mengalahkan harap serta suara teriakannya seperti luput dari keberadaannya. Dia berujar "Ibu satu tahun ketika aku tidak mengenal ayah kau ucapkan padaku bahwa kata ayah hanya sebatas tanggung jawab seorang lelaki terhadap hidupnya yang kemudian memberi manfaat kepada orang disekitarmu. Seketika itu hujan yang menggantikan terik matahari memberi harapan waktu sehingga kelak aku bisa menjadi seorang ayah untuk tanggung jawabku terhadap cinta yang aku harus lukiskan dalam hatiku tanpa adanya rasa takutku terhadap kesakitanmu yang tertinggal oleh masa tanpa mengenal sosok ayah bagiku dan seorang yang menjadi cinta dalam duniamu".

Satu detik saja kilat yang menyambar ngarai dasar tujuan akhirnya membentuk sebuah payung berwarna merah di selembar kertas itu walaupun terlihat kusam dan kotor oleh topangan tangan anak laki-laki itu yang sudah berhenti menangis mencoba lebih berani menghadap hujan.

Sang bunda kemudian datang menghampiri anak laki-laki yang berada di beranda rumah tersebut sementara hujan perlahan berhenti dan angin berhembus tenang seperti melepaskan beban yang ada di pundak seorang ibu dan menghasilkan suara kasih sayang yang tercipta oleh mimpi dan harap seorang anak terhadap ibu sekaligus ayah.

"Anak laki-lakiku, kaulah laki-laki yang kelak menjadi seorang dewasa dengan keputusan berat di tanganmu, seperti halnya ketika suatu saat kau akan pergi dari rumah ini membawa sejuta mimpi terkasihmu dan menjadikan kehidupanmu lebih berarti dari laki-laki manapun yang pernah aku kenal. Anak laki-lakiku, jadilah setenang angin dimana yang akan terjadi pada masa dewasamu adalah tempat dimana berakhir angin akan berhembus sementara kau tak lagi berangan-angan namun kau menjadi angan-angan yang kau impikan dengan kesuksesan bergerak dinamis dalam setiap ritme kehidupan tanpa terganggu ritme hujan yang menyeretmu dalam kesedihanku".

Layaknya seorang penari, anak laki-laki itu melenggangkan tangannya yang kemudian secara gemulai melukiskan wajah sendu oleh crayon berwarna biru didasar payung yang berwarna kemerahan. Dia tertunduk haru namun sekaligus membawa sejuta mimpi yang tercetak persis didasar hatinya, sebuah kebahagiaan yang akan ia gapai hanya dari restu serta kasih sayang seorang ibu yang tak pernah bisa melukis seorang ayah, namun harunya adalah sebuah bentuk kebanggaan serta tanggung jawab yang kini terlukis diantara payung tersebut serta wajah sendu sebuah bias sinar berwarna jingga yang melingkarinya.

"Anakku, jadilah hujan yang mengkasihi bumi tanpa mengeluh seolah bumi tetap harus dimengerti dan jadilah pemimpin pasukan yang kelak nasi yang orang terkasih makan akan menjadi tanganmu yang selalu memberi seperti cinta yang aku berikan pada mu dari air susu ku semasa kau berjuang untuk hidup dan menjadi manusia".

Sang ibu kemudian beranjak dan meninggalkan anak laki-laki tersebut dalam diam dan tak lagi kosong menatap cahaya bulan yang menelusup memecah awan dan hujanpun berhenti. 

Anak laki-laki itu kemudian berdiri tegap, matanya memandang seolah seorang ayah langit yang bertanggung jawab terhadap apa yang dia dengar dan ia lukiskan, kemudian tatapannya tajam kepada bulan dan berteriak pada malam.

"QUE SERA SERA"

"Akulah sang lelaki anak dari ibuku dan ayah yang tak sempat ku kenal dan akulah sang lelaki yang tidak akan menari dalam hujan, akan kukibarkan bendera merah diatas kepalaku serta hak-hakku sebagai seorang lelaki kecil yang mempunyai mimpi.
Akulah seorang pendewasaan citra antara waktu di mana tempat berteduhku adalah cinta, tanpa terjatuh dan rasa sakit hati sementara tubuhku adalah bejana tanpa retak yang mengisi kebeningan hati sehingga ibuku akan meminum air dari bejana itu sebagai tanggung jawab dan hakku, seorang laki-laki yang kelak memayungi cinta serta renta ibuku diantara nyanyian sunyi sang angin malam."

"QUE SERA SERA "

No comments:

Post a Comment

Post a Comment