Showing posts with label a phylosophy. Show all posts
Showing posts with label a phylosophy. Show all posts

Friday, March 2, 2012

Table of Life

I sat watching how the dining table can be so meaningful inside a family, it become a media to unite whole thing happens  within the live thing. A mother serve breakfast to her family with love, a father gave a role model how a man handle a family to his child. Kids were learning manner and what need to be an attitude to faced elder people.

It show power, systems and communication between one each others, a court to a family, forgiveness and also the greatest thing in family is love and tender. as an art table it self as esthetic thing that fill the function of the chair, it can be separate how a public table speak on its way into a private emotions among the table itself.

a Symbol and a silent witness of manything, from the small thing when a coffee served and discussions started and the big thing when people are talking about peace around the world or even when was the war happened.

Today I met my friend and talked about life, the table size was not larger than my dinning table at home. Six of us was laugh together there were no limitation for us to talk. Six people, four man and two woman were sitting together rounded at the tinny square table. On the table a different taste of food and drink served, we're communicate each other crossing those table. Suddenly we're stopped in the last minutes after talked many thing, my friend asked "what's happened if one of us is left in the future or maybe the area problem who will separate us from this togetherness and our number will be less, maybe five, four or even we're no longer together and live on one stand each other?".  

The situation became different, all of us was silent and bow. I guessed that all of us were prayedin their heart wished that will be not happen among us. One of my friend confessed that if there are a person will leave in our community is him because he will left overseas and for several years he will absence from our gathering. But my friend who ask the question is said, "it's a matter of time, what I am trying to say is if someone between us is die first". All of us is shout at him and told him to stopped the topic and forget those discourse. One of my friend answered "Do not talk about the future that we even don't know about it, what we should do is doing our best as long as we are still together".

a Lost and thing that probably will happen to us, a symbol of togetherness where today we're gathering and someday  one of us is left us and surely makes a different. different due to time and it represent by a table that often become a witness for us, an intrique, fight, misunderstanding then of of us is hit the table, one of us is crying and many things that will be happen.

a Media that gave us learning, make us easier to do things. a hobby, bussiness, even a dream was created on a table. That's life! 

Friday, February 3, 2012

Melihat dan Berpikir

“ Aku bisa melihat “
“ Bagaimana bisa melihat, kamu buta sejak lahir “
“ Apa aku perlu tidak menjadi buta untuk melihat “
“ Tentu, itulah gunanya mata, yaitu untuk melihat “
“ Tapi aku bisa melihat tanpa mata, aku bias merabanya dan kemudian membayangkan seperti apa bentuknya kemudian mengumpulkan beberapa informasi yang kutahu hingga di visualisasikan oleh pikiranku “
“ Wah sangat rumit sekali ya “
“ Tidak, sangat mudah bagiku karena merupakan sebuah rangsangan bagiku untuk berpikir “

“ Aku boleh Tanya ? “
“ Silahkan “
“ Bagaimana cara kamu melihat sebuah bola “
“ Bola itu bentuknya bulat dari perabaanku, besarnya bervariasi tergantung olahraga apa, lentur sehingga saat ditendang tidak menimbulkan sakit pada kaki, tentu didalam nya adalah sebuah ruangan udara yang terkunci hingga dapat memantul mengikuti teori gravitasi, ada yang berbahan kulit, plastic dan bahan-bahan lain, kalau menurutmu? “
“ Bola itu warnanya merah “
“ Sederhana sekali pemikiranmu, tentu aku tidak bisa membedakan warna-warnanya ya “
“ Tentu karena mata hanya berpikir sederhana, sedangkan otak hanya menyimpulkan sesaat setelah kita melihat sesuatu “

“ Sesederhanakah itu cara pandang dalam hidup? “
“ Tidak sebetulnya, Alurnya begitu banyak hingga kita bias menyimpulkan sesuatu, mulai dari melihat, kemudian menganalisa dari apa pernah dilihat lalu menyimpulkan “
“ Ternyata sama saja “
“ Betul, jadi ternyata melihat itu lebih pada gagasan, semua mempunyai fungsi yang saling bertautan, jadi kesimpulannya adalah mata bukan hanya sekedar instrument untuk melihat “
“ Kalau begitu aku akan berhenti bermimpi untuk melihat “
“ Memang apa yang kau mimpikan? “
“ Aku bermimpi bisa melihat perempuan cantik “
“ Sebaiknya jangan! “
“ Kenapa? “
“ Ketika kau mampu membedakan perempuan cantik dan tidak dalam garis visual mata, mungkin kau akan kehilangan daya analisamu terhadap pandangan atau gagasan tersebut “
“ Tidak heran ada yang bilang cinta itu buta “
“ Betul, jika diberi pilihan dalam memilih aku lebih pilih untuk tidak menilai secara subjektif karena mata dan kerumitannya dalam membuat gagasan akan terpangkas habis saat mata kemudian membawa nilai penampilan dalam aspeknya “
“ Lalu maukah kau bertukar tempat denganku? Aku menjadi bisa melihat dan kau menjadi buta “
“ Tidak kawan, semua terletak pada otak kita bukan kesalahan mata “
“ Betul juga “

“ Pandangan, gagasan, adalah lebih pada sebuah konstruksi seorang manusia terhadap sesuatu bisa terhadap lingkungannya atau pada yang dirasakan “
“ Cogito ergo sum! “
“ Manusia adalah manusia bagi dirinya sendiri kemudian sikap dan perasaan adalah bagi lingkungan tempat dia tinggal “

Tuesday, January 24, 2012

Inferno

Letak dari semua pengertian bukan ada pada sejarah mata melihat atau merasakan namun lebih merupakan pencernaan atau apa yang kita terima secara naluri dan diterima oleh otak kita sebagai paham atau tahu dan mengerti yang kemudian diaplikasikan pada hidup entah terlepas itu kebaikan ataupun kebenaran yang menurut pemahamannya itu sendiri terletak pada nilai atau gagasan dan ide yang berkembang secara humanis pada lingkungan manusia.

Aku jauh berjalan sebagai sebuah metabolisme hidup yang bertumbuh menjadi seorang dan sesuatu paham, paham yang bukan merupakan ajaran ataupun mengerti namun lebih pada memahami sesuatu diantara ketidak tahuan dan mengerti diantara ketidak pahamanku. Seperti sebuah sistem mekanik ia bergerak dengan tenaga dan kemudian ia menghasilkan daya atau sebuah usaha sehingga dalam satu bingkai manusia kita bisa melihat seorang manusia sedang berjalan. Kemudian ia seperti halusinasi tanpa paham atau lebih pada bayangan yang juga entah dalam rangka mengenal atau justru lebih pada tidak mengenal diri dan tersesat diperadaban manusia.

Bukan secara filosofis jika harus tahu mengenai teori dasar atau apa dan darimana namun kita hanyalah kita yang selalu beralibi sebagai mahluk sub cerdas yang letak kesempurnaannya selalu tidak ada dan bangga dengan kesalahan. 


Wednesday, January 18, 2012

Tidak ber-judul

Aku terdampar disini, disebuah sudut ruang gelap tanpa arti, tak bernama, tak teraba bahkan hampir tak ada sisi yang terlihat sebagai pandang atau pemahaman terhadap sebuah arti yang justru juga tidak mempunyai judul apapun. 

Sebuah kotak mengerti yang tidak mempunyai titik penerangan yang menjelaskan bentuk atau rupa akan sebuah pertanyaan yang sudah termakan usia tentang siapa dan siapa saja ataupun kenapa dan kenapa, memang bukan sebuah pertanyaan filosofis apa dan karena apa namun melainkan sebuah sisi mengerti akan beberapa hal yang seharusnya adalah sebuah pemahaman tentang bentuk, ruang gerak atau bahkan cara pikir. 

Nilai bukan merupakan paham atau mengerti namun lebih pada hasil pandang yang bukan merupakan sebuah gagasan walaupun pandangan atau nilai kemudian menghasilkan gagasan namun hal tersebut kemudian tidak bersifat mutlak dikarenakan dalam rangka paham adalah mengerti terhadap siapa diri kita atau dimana kita berdiri.

Terdampar bagiku bukan sebuah akhiran yang menyudutkan atau memang akan menjadi sebuah pekuburan. Ternyata paham kita adalah manusia bukan saja letak dimana mata atau cara menghubungkan logika berpikir atau bagaimana hati merasakan namun lebih pada aspek kesadaran bentuk terlepas sempurna atau tidak, kesadaran akan keberadaan inilah yang mengingatkan kita pada Tuhan yang menciptakan dalam kaidah hubungan vertikal seorang mahluk-Nya dan kewajiban- kewajiban terhadap penciptanya. Kemudian dalam kaidah horizontal yaitu hubungan antar manusia ternyata mempunyai jalur yang lebih berbelit-belit diantara sekian juta pemikiran atas manusia itu sendiri dengan otaknya masing-masing, keegoisan ataupun kebutuhan secara sosial yang disebut lingkungan yang kemudian menghasilkan nilai, ilmu pengetahuan bahkan perasaan itu sendiri.


Friday, December 30, 2011

Rumah Kopi Tua

Semenjak jalan dari kemarin  kami tidak ketemu dengan segelas kopipun. Travis, seorang warga Canada yang sangat mencintai Indonesia adalah seorang pecinta kopi yang tidak mau disebut sebagai pecandu kopi. Menurutnya kopi adalah hidup dan Ia temukan saat beberapa kali kunjungannya ke Indonesia. Kopi tubruk adalah denyut nadinya. Ia sudah sering kali berpergian ke seluruh kota di Bumi ini dan merasakan berbagai jenis kopi dari seluruh dunia dan iapun selalu rapi menyusun rasa-rasa kopi tersebut dalam sebuah catatan kecil yang selalu ia bawa  kemanapun ia pergi termasuk kedalam toilet yang ia yakini sebagai tempat ia merencanakan masa depannya.

Travis berada di Indonesia karena alasan yang tidak harus aku ceritakan tapi saat ini tepatnya kami ingin mencari tempat sebagai perenungan kami. Travis sangat mencintai alam, walaupun ia adalah seorang insinyur teknik namun ia sangat tradisional dalam memandang hidup. Menurutnya teknologi di ciptakan hanya untuk membantu manusia dikala manusia sendiri sudah merasa tidak mampu melakukan sesuatu. Dan karena alasan tersebutlah Travis mencintai Indonesia dimana ia sangat mencintai kopi yang di tumbuk secara tradisional dan diseduh secara tradisional pula.

Di daerah tempat ia tinggal sering ia jumpai capucino atau kopi olahan lain tapi pada akhirnya ia putuskan untuk jatuh cinta pada kopi tubruk. Tepatnya tahun lalu aku bawa kesuatu daerah yakni Pangalengan, sebuah tempat yang berada di Selatan kota Bandung. Di sana ia mengenal seorang perempuan di sebuah kedai kopi dan merasa jatuh cinta padanya. Kebetulan ayah dari perempuan ini adalah seorang petani kopi yang selalu membuat kopi dan mengolahnya sendiri untuk di jual di kedai kopi milik keluarganya. 

Satu minggu Travis berada di Pangalengan, kota ini bukan merupakan kota penghasil kopi namun tentunya ada beberapa pohon kopi yang sengaja di tanam sebagai tanaman tumpang sari di kebun-kebun mereka ataupun pekarangannya. Travis mengenal kopi tradisional dan mengenal cinta dari secangkir demi secangkir kopi yang ia minum selama di sana, dan semenjak itu Travis selalu meminum kopi buatan Keluarga Si pembuat kopi bahkan tidak segan ia tiap bulan mengirim uang untuk membeli kopi sebagai persediaan ia minum kopi. 

Menurutku kopinya tidak sama sekali enak jika dibandingkan dengan kopi luwak, kopi toraja atau kopi manapun di Indonesia. Kopi ini hanya mengeluarkan aroma selama beberapa detik saja pada saat penyeduhan namun kemudian hilang aromanya, tapi Menurut Travis kopi tersebut adalah kopi keikhlasan seseorang dan cinta yang tentunya sangat berperan terhadap rasa.

Di kota Malang tempat beristirahat kami semenjak siang Travis sepertinya gelisah karena belum meminum kopi, dia tidak mau masuk ke coffeeshop ataupun membeli kopi instant yang dijual di warung-warung sehingga ia memutuskan untuk mengajakku dan mencari kedai kopi tradisional.

Disudut kota Malang, tepatnya dekat dengan lingkungan kampus dimana terdapat rumah-rumah kost para mahasiswa ia berpikir bisa menemukan kopi tradisional yang ia inginkan sehingga kamipun mulai berjalan kaki menembus gerimis sore itu  demi secangkir kopi cinta. Travis sempat mengamuk di Surabaya tempat kami mendarat saat menuju Malang karena ia kehilangan kopi cinta nya yang ia bungkus rapi di dalam tasnya, namun entah karena ia lupa atau memang hilang akhirnya kami tidak berusaha berdebat dengan petugas bandara kemudian melanjutkan perjalanan.

Di sebuah sudut jalan persis di samping sungai kecil ia melihat sebuah kedai kopi kecil yang sangat kumuh namun bukan masalah kumuhnya atau memang status sosial yang terlihat di lingkungan tersebut akhirnya kami datangi tempat tersebut kemudian memesan kopi yang kami mau. Bahasa Indonesia Travis belum terlalu lancar sehingga aku yang menjadi penterjemahnya dan menyampaikan bahwa kopi yang kami pesan adalah kopi yang di racik sendiri. Ibu tua yang jelas mengerti betul mau kami dia tersenyum dan mempersilahkan kami duduk dan menunggu.

Satu jam sudah sudah kami menunggu dan menyantap pisang goreng yang di sajikan di warung tersebut sambil berbincang-bincang mengenai masa depan kami. Ibu tua yang berparas gemuk itu kemudian datang dan menyuguhkan kopi kepada kami, aku lihat Travis sepertinya menikmati kopi yang disajikan Ibu tua itu dan bertanya kopi apa yang ia sajikan dengan logat Inggris yang jika orang baru mendengarnya tentu akan tertawa terbahak- bahak.

Ibu tua itu tersenyum kemudian menjelaskan bahwa kopi yang ia buat adalah kopi olahannya sendiri, Travispun hanya mengangguk-ngangguk pertanda ia setuju.  Tidak lama kemudian Travis meminta ijin padaku untuk membeli rokok di warung sebelah dan saat Travis pergi itulah aku bertanya pada Ibu tua itu apa benar bahwa kopi yang disajikan itu adalah kopi racikannya karena menurutku rasanya sangat tidak enak sekali dan bahkan aromanya tidak lebih daeipada aroma jagung bakar bukannya aroma kopi. Si ibu tersenyum dan bercerita bahwa memang kopi yang di sajikanya adalah kopi instan yang telah ia campur dengan jagung. Kemudian iapun bercerita kepadaku kenapa ia melakukan hal tersebut.

Tiga tahun yang lalu sang Ibu tua ini menjanda karena suaminya meninggal karena tertabrak mobil saat menyebrang jalan, Sang suami adalah seorang veteran tentara yang menurutnya telah ikut berjuang semasa jaman penjajahan Belanda. Setelah kemerdekaan kehidupan mereka memburuk, suami yang hanya berpangku pada tunjangan pensiun itu tidak memberikan kecukupan bagi keluarganya, mereka tidak mempunyai anak namun kesehariannya ia harus menghabiskan uang pensiun itu untuk membayar pungutan-pungutan yang harus ia penuhi karena ia tinggal di tanah milik instansi pemerintah yang setiap bulannya mengwajibkan ia untuk membayar sewa.

Sang suami dari ibu ini adalah seorang pecinta kopi juga sehingga setiap hari harus tersedia kopi saat sang suami masih hidup dan bahkan dalam satu hari ia harus menyedian sampai lima gelas kopi untuk sang suami padahal kondisi ekonomi mereka sangatlah tidak memungkinkan untuk membeli kopi terutama di jaman saat harga bahan pokok naik dan harga-harga melambung tinggi. Namun demi kecintaannya kepada suami itulah si Ibu kemudian mengolah jagung-jagung yang ia peroleh dari pasar menjadi kopi untuk suaminya. Dan nampaknya sang suami tidak pernah mengeluh walaupun ia tahu bahwa yang ia minum adalah jagung walaupun ada sedikit kopi didalamnya, menurut suaminya yang ia butuhkan bukanlah kopi atas rasa atau sebuah eksistensi rasa dari kopi itu sendiri namun semangat dan cinta yang tertuang dalam kopi tersebut.

Aku lihat mata Si Ibu tua ini mulai berkaca-kaca menceritakan tentang suaminya sehingga ia bisa bertahan sendiri dengan membangun kedai kecil dari sisa-sisa pensiunan almarhum suaminya.

Aku diam dan menunduk malu karena tidak bisa merasakan apa yang terkandung dalam kopi itu dan malah menilai bahwa kopi tersebut tidaklah enak sama sekali. Travis sudah kembali dari warung yang letaknya beberapa ratus meter dari kedai kopi tersebut dengan muka yang berbinar-binar sambil berkata padaku untuk memesan kopi sebagai persediaannya selama perjalanannya di Jawa timur dan menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada sang Ibu. Ibu tua itu menangis haru dan menyuruh kami untuk menunggu lagi sementara ia akan membuatkan kopi untuk kami.

Tuesday, December 27, 2011

Dialog dengan Keberadaan

Toge : "Akulah yang mempunyai kandungan vitamin tertinggi!"
Kacang : "Tidak!! aku yang mempunyai kadar protein tinggi"
Toge : " Tapi aku lebih banyak dicari orang!"
Kacang : "Pembual kau! aku lah yang justru mempunyai harga yang lebih tinggi!"
Toge : "Mimpi kau! aku ada karena keberadaanmu diragukan!"
Kacang : "Itu karena aku terlalu berharga untuk di buang!"

Gula merah :"Bodoh kalian! bertengkar pada akhirnya menjadi makanan manusia!"

Toge : "Aku makanan yang enak!"
Kacang : "Kau tahu bahwa bubur kacang itu banyak yang suka!"
Toge : "Aku tetap juara! tukang toge goreng itu membuatku lebih berharga!"
Kacang : "Tanpa tukang atau penjual mungkin kau hanya sampah!"
Toge : "Karena tukang aku ada!"
Kacang : "Sudah jelas kau kalah!"
Toge : "Maksudmu?"
Kacang : "Aku tidak perlu manusia yang menjadikanku kacang ijo!"
Toge : "Bukan tentang toge goreng tapi kau berasal dari aku!"
Kacang : "Apa tidak terbalik?"
Toge : ........... (berpikir) kacang ijo dulu apa toge dulu

Matahari : "Dasar mahluk!! hanya berdebat tanpa pikir!"
Angin : "Toge ada karena aku yang menciptakan kelembaban! dan Matahari sebagai kawanku yang memberikan arah hidup!"
Matahari : " Hai Toge! pernahkah kau melihat kemana arahmu tumbuh?"
Toge : "Tidak Tuan!"
Angin : "Hei kacang ijo! pernahkah kau berpikir bisa hidup tanpa udara!"
Kacang : "Tidak Tuan!"


(diam dan kemudian saling berpikir)

Manusia : "Hei Toge aku akan memakanmu malam ini, dan kacang! tentunya aku akan memakanmu hari esok!"


Kloset : "Dan aku akan menjadi tujuan akhir dalam berpikir!!!!"

Monday, December 26, 2011

Forklor

Bukan sebuah bahasan komunikasi atau ajaran menahun tentang bahasa atau ajaran budaya pada suatu tempat yang  menjadikan identitas wilayah ataupun ke-suku an dari manusia yang secara turun menurun dan tertampung dalam budaya atau komunitas-komunitas manusia. Pengelompokan adalah jelas  nama dari sebuah pihak dan bertindak mewakili kumpulan namun bukan korelasi manusia dan dirinya sendiri termasuk cara bahasa antara dia dan kepercayaannya.

Pada suatu waktu adalah tentu masa lalu yang melahirkan awal dari seni, yang juga seharusnya menjadi bagian dari ekspresi atau komunikasi. Lalu bagaimana manusia meng komunikasikan hati? apakah justru seni itulah bahasan yang mereka kemukakan dalam rangka mengungkapkan isi hati? 

Apa yang kemudian yang masuk dalam kategori seniman dan bukan? dan apa yang kemudian seseorang bisa masuk dalam ranah peng-komunikasian antar manusia terlepas itu sebuah kritik ataupun hanya untuk dinikmati oleh publik. Padahal bisa saja dia sedang berbohong sementara orang banyak sudah mengklaim bahwa itu adalah seni dan seni adalah ekspresi hati. Lalu apakah hati sang seniman adalah pembohong? apakah didalamnya ada faktor mata dalam fungsi untuk menilai sesuatu kemudian menancapkan sebuah label bahwa segala sesuatu dari hati adalah seni, entah itu puisi baik bohong atau tidak, entah itu nyanyian terlepas siapa yang menciptakan dan menjiwai, entah itu lukisan abstrak yang padahal sang seniman hanya menggoreskan tanda merah saja pada canvas putih kemudian menjadi seni yang maha dahsyat artinya. 

Mungkin sang nenek moyang masa lalu juga telah menetapkan bahwa sebagai budaya terlepas baik atau buruk maka itulah yang harus menjadi kebiasaan, sebagaimana kita harus percaya bahwa beberapa hal yang tabu kita lakukan adalah sebuah dosa besar yang tidak boleh kita lakukan karena akan berhubungan dengan hal-hal ghaib disekitar kita, klenik? pamali? budaya? adat? atau hanya sebagai bentuk komunikasi saja dari orang-orang terdahulu kepada orang-orang sekarang agar lebih mengingat eksistensi kita terhadap waktu.

Mungkin kita akan lupa ketika kita akan membuka hutan maka dibutuhkan ritual-ritual khusus yang sudah dipersiapkan orang jaman dulu yang kemudian orang sekarang tidak melakukan hal tersebut dan pada akhirnya terjadi bencana alam. Tentunya hal tersebut tidak ada salahnya secara positif bahkan mungkin itu adalah sebuah tanda keselarasan bagian alam yang seharusnya kita patuhi sebagai salah satu mahluk di muka bumi yang hidup berdampingan, bukan sebagai kuasa alam yang bebas melakukan apa saja terhadap alam.

Manusia bermain Tuhan, menilai, memutuskan kemudian bergerak seolah seorang khalifah dimuka bumi yang berkesewenangan untuk menindas sementara dalam tubuh kemanusiaan ini pula belum banyak yang kita ketahui. Secara struktur ataupun status sosial adalah sebagai contoh nyata, siapa yang menentukan tentunya manusia itu sendiri dan kemudian hal-hal lain yang pada akhirnya menjadikan manusia bangga atas naluri dan sifat dasar manusia yakni tidak pernah puas dan tidak akan puas. 

Terlepas dari sebuah seni yang terdefinisi sebagai ekspresi, sebuah cinta saja adalah ekspresi hati.  Lalu dari beberapa pertanyaan-pertanyaan atau kritik kita kepada manusia adakah jawaban yang bisa di terima jika manusia itu sendiri mencari jawaban menurut versinya sendiri sehingga kebutaan-kebutaan akan ketidak tahuan adalah hanya pemahaman wacana saja dan pada akhirnya kita sedikit mengambil inti sarinya dan menyimpulkannya sendiri seperti hakekat pertanyaan analisa yang harus dijawab tidak secara tepat tapi mempunyai tujuan yang sama.

Apakah sudah cukup mengenal diri sendiri terlepas dari siapa yang melahirkan, yang berwacana tentang waktu kemudian forklore itu sendiri dalam komunitas manusia baik bahasa atau secara implisit adalah anda sendiri dalam kotak anda sendiri yang berujung pada teori penciptaan alam semesta raya ini?

Nilai Mata

Nilai sebuah kejujuran yang berbanding lurus dengan mata tidak bisa di bagi lagi dan terbalik pada nilai sebuah mata, itu adalah bukan sebuah teori yang menggambarkan relativitas yang dikemukakan Enstein ataupun wacana realitas yang ada pada diri manusia. Namun sebuah kisah selalu bergambar bahwa nilai kejujuran adalah sebuah kebutaan yang paradoks, tidak terartikan dalam keberpihakan atau subjektivitas mata dan dalam hal ini adalah bagaimana mata melihat.

Bagaimana sebuah lambang keadilan tergambar sebagai seorang perempuan yang ditutupi matanya kemudian memegang neraca yang berimbang, apakah sekaligus menyerukan bahwa jujur adalah bukan keberpihakan entah secara naluri, hati ataupun akal? lalu dari mana perimeter asil dalam skala manusia? Adil dan jujur?

Dalam dongeng dan tokoh superhero banyak yang menjadi adil dalam versinya "seorang pahlawan", yang tidak ada dalam aturan hukum namun mengadili secara realita kebutaan hukum. Ada si buta dari gua hantu yang berjalan dengan tongkat mencari keadilan membela yang lemah kemudian si buta-buta lainnya, lalu bagaimana dengan tokoh pahlawan yang tidak buta yang notabene juga seorang manusia?

Asrul adalah seorang pemuda yang mendebatku tentang kejujuran ada pada mata, di sebuah warung dekat persimpangan di kota Wangon yaitu persimpangan menuju Cilacap dan Purwokerto. Aku memesan sebuah kopi karena rasa kantukku yang sangat luar biasa setelah perjalanan yang cukup panjang dari Jogjakarta. Asrul memesan secangkir kopi tanpa gula seperti yang aku pesan dan kemudian dia berceloteh bahwa yang diminumnya adalah bukan kopi yang sudah sangat jelas nampak oleh mataku itu adalah kopi yang sama disuguhkan oleh penjual warung itu padaku. Asrul naik pitam dan berteriak bahwa dia merasa tertipu oleh penjual warung itu, hingga akupun melerai nya dan ikut menjelaskan bahwa benar yang diminumnya adalah kopi.

Aku bisa tahu bahwa Asrul buta karena kulihat ia memakai tongkat dan matanyapun tak kulihat memperhatikan kearah sekitar, Asrul bercerita bahwa dia tidak suka dengan ketidak jujuran dan tidak suka ditipu terlebih mengenai rasa yang ia tahu yakni kopi yang selamanya ia konsumsi dirumah adalah kopi murni tapi kemudian kini ia tertipu karena kopi yang disajikan adalah kopi yang sudah berjampur dengan jagung. Ia tidak terima hal tersebut.

Asrul bertanya padaku tentang nilai kejujuran, apakah mata yang melihat atau justru tanpa mata ia adalah kejujuran yang tidak tampak? akupun menjawab tergantung darimana persepsi orang menanggapi letak kejujuran seperti apa yang ia tanyakan.

Asrul adalah seorang pemuda yang mungkin berumur 21 tahun dilihat dari usianya, dan dari gaya bicaranya tentulah ia sering mendengarkan berita dan membaca. Itu terlihat dari wataknya dan kepintarannya mengolah kata hingga akupun tentu tak bisa mendebatnya. 

Setelah dia mendapatkan jawabanku dia diam, kemudian dia berkata padaku bahwa kejujuran adalah nilai utama yang datang bukan dari mata, mulut ataupun nurani, kejujuran adalah nilai tertinggi dari kemanusiaan yang manusia sendiri akan susah melakukannya. Kemudian dia bercerita bagaimana ia di ajari semenjak kecil tentang bagaimana membaca dan mengolah lingkungan menggunakan indra lainnya sehingga ia peka dengan sekitarnya.

Saat masih kanak-kanak Asrul bersekolah ditempat orang buta, entah itu huta sejak lahir ataupun buta karena kecelakaan. Disekolahnya sering diadakan kompetisi olahraga dan itu termasuk olahraga sepakbola. Menurut gurunya olahraga sepakbola orang buta ini akan menjadi sangat menarik untuk dipertontonkan karena akan sangat tidak biasa dan tentunya akan banyak penonton yang datang dan menyumbangkan dana untuk yayasan tersebut.

Di hari pertandingan, yang Asrul tahu hanyalah berdiri ditengah lapangan tanpa tahu kemana dia harus bergerak dan bentuk bola saja dia tidak tahu yang kemudian semua peserta pemain bola itu akhirnya harus merangkak mencari bola yang bundar dan ia tidak ketahui bentuknya. Itupun yang ia dengar hanya suara keras dari pemandu atau komentator yang disertai gelak tawa orang- orang yang menontonnya. "Aku jelas tersakiti!", kata Asrul. Ketika semua itu adalah sebuah bahan candaan saja terhadap kejujuran kami yang tidak pernah mengetahui sepakbola dan rupa dari bola yang harus kami tendang, itupun kami tak tahu arah. Kemudian Asrul meraba-raba mencari batu di lapangan itu untuk kemudian dilemparkan kearah suara yang melengking yang ia tahu adalah suara gurunya, dan ia lemparkan batu itu hingga kepala sang guru berdarah dan dilarikan ke Rumah sakit.

Sejak kejadian itu Asrul dikeluarkan dan banyak belajar dirumahnya, yaitu dengan mendengarkan berita di televisi dan radio yang ia dengarkan. Kemudian menyimpulkan bahwa tak ada cara untuk mengetawakan kejujuran jika tidak punya mata yang hanya hisa menilai entah itukebaikan atau kejahatan. Walau itu hanya sebuah simbol bahwa mata tidak pernah bohong dan akan lebih baik lagi jika tak ada mata yang melihat. Tidak pula hati yang juga dipenuhi emosi atau pikiran yang mengacaukan dan terpengaruh satu sama lain.

Bahwa kejujuran adalah kebutaan seorang manusia 

Sunday, December 25, 2011

re-posisi

Zian adalah seorang laki-laki yang memutar langkahnya di atas kursi roda setelah kecelakaan sepeda motor yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Ia adalah seorang pembalap jalanan yang sering kali mempertaruhkan nyawanya demi sebuah nilai atau kehormatan  yang harus ia dapatkan untuk mencapai status sosial di hormati di kalangan remaja seusianya. 

Bagi kalangan Zian mata adalah sesuatu yang berharga sehingga dengan mata ini pula yang menjadikan nilai bagi seseorang termasuk menentukan status sosial antara di hormati atau di hina sebagai seorang yang mempunyai status sosial yang rendah.

Status sosial itu sendiri merupakan sebuah arena penciptaan terhadap golongan yang kemudian menentukan kelasnya. Seorang akan dinilai miskin oleh seorang kaya, entah itu merupakan nilai yang mutlak ataupun abstrak oleh mata yang memandang tapi tidak memahami.

Zian sendiri adalah salah seorang yang selamat dari sekian pembalap jalanan yang kemudian harus berakhir dalam nisan batu yang pada akhirnya tampak sama dan tidak lagi memandang status sosialnya. Sebuah prestise atau gengsi sebagai cakar yang mungkin harus tertancap pada cerita dan kisah satu lajur hidup seorang manusia. Zian adalah orangnya yang telah bertaruh atas nama besarnya demi sebuah nama oleh mata. Memegang kendali sosial dan bertumpu pada apa yang tidak harus dipahami.

Dimana sebenarnya Zian berdiri?

Sekian harga sepeda motornya saja adalah jelas sebuah nilai manusia tapi tidak menentukan ia berdiri dimana, terlebih saat kegagalan itu ada dalam versi sosialita dan realitas sementara nilai realita yang menjadi Tuhan manusia adalah nilai mata.

Jangan tanya nurani manusia? 

Zian adalah seorang pejuang logika dimana kalah adalah mati, tapi kemudian siapa yang menolong saat ia tidak harus mati dan kalah sebagai pecundang diantara manusia? manusia itu sendiri tentunya? tapi akankah Zian menjadi sadar siapa dia diantara manusia? atau lebih jauh memahami bahwa mata adalah hanya gagasan manusia bukan Rencana Tuhan yang tidak mengenal kegagalan.

Dalam satu putaran kursi roda Zian menyebut dirinya melangkah, karena dia tak punya kaki untuk sadar dia tidak berdiri atas keberadaannya dan justru duduk lelah tanpa menapak kemudian menangis untuk sadar bisa berdiri.

Penghargaan yang mana oleh manusia?

Eksistensi adalah presisi dan sebuah posisi menang manusia dan selebihnya adalah sejarah yang harus dimuseum kan bahkan mungkin harus dilelang ataupun masuk kedalam gudang. Apakah itu yang menjadi pencapaian? 

Kesadaran berpikir?


Saturday, December 24, 2011

Kopi menggugat ; Menggugat kopi

Jika sebutir biji kopi saja bukan berarti apa-apa lalu kenapa ada aku diantara tumpukan-tumpukan itu. Memang semua adalah sebuah kesatuan walaupun bukan kami yang berpikir atau aku yang  berpikir terlepas dari gagasan terhadap kopi itu sendiri. 

Kami dan saya tak pernah berfilosofi dan melahirkan filosofi dari keberadaan dan kehadiran kami dan saya ditengah hiruk pikuk manusia, namun ada beberapa yang yang menunjukan pada kami dan saya bahwa filosofi itu sendiri memang hanya sebuah kajian dimana kita sering melupakan sisi dan banyak sisi dan merangkum kesimpulan yang tentu tidak semua orang setuju.

Jika kopi adalah keberadaan ilmu lalu kenapa ada diskriminasi rasa, sedangkan yang membedakan adalah sisi terdalam kami bahkan rasa pahitnya saja yang sebagian orangpun membencinya. Kopi apakah itu kebersamaan? disaat berbagai wacana terpaparkan sebagai ide dan pikir dari setiap elemen manusia, kenapa kemudian tersegmentasikan oleh golongan yang notabene dinding pemisahnya hanyalah uang yang ada di kantong.

Seburuk rupakah mereka yang menyeduh sendiri kopinya dengan yang menggunakan mesin super canggih kemudian cara menikmatinya pun disajikan dengan etika? Saat beberapa orang mampu menikmati kopi dengan kepulan asap dimulutnya kemudian para pecinta kopi lainnya membantah hal tersebut dapat merusak aroma kopi. Bukankah filosofi manusia bahwa kopi mempunyai aroma kopi yang khas dan dapat menetralisir bebauan?

Jika tersaji sebagai sebuah produk untuk konsumsi dimana kopi di hidangkan sebagai menu utama dan terpampang jelas bahwa kopi adalah pemersatu, dimana di setiap wadung kopi mereka bisa bercanda dan kemudian memberikan nilai filosofis bahwa inilah arti kebersamaan dalam sebuah kopi. Lalu kenapa menjadi masalah jika seorang pecinta kopi hanya bisa menikmati secangkir kopi dalam fase hidupnya? Merasa sepi terwakili oleh rasa pahit itu. 

Jika hitam pekat adalah simbolku kenapa kemudian kopi pun menjadi putih yang bukan pula adalah albino. Sudah jelas secara filosofis aku yang tahu dengan keberadaanku adalah kesendirian ditengah keramaian terlepas dari siapapun yang akan bicara dan apa yang dibicarakan, bukan saja pembicaraan warung kopi samping jalan akan sangat setara dengan intelektualitas pembicaraan di kafe yang menyediakan kopi olahan, walaupun essensinya tetap sama yakni berpikir, entah aku yang berpikir, kamu yang berpikir, kita yang berpikir atau kalian yang berpikir.

Lalu mengapa kalian saling meremehkan, entah apa yang mnjadi sunia kopi hanyalah minuman hitam pahit dengan segala filosofisnya dari manusia, tapi memang sudah sifat manusia bukan? untuk menafsir apa saja dan teori berpikir keberadaan dan penciptaan walaupun tak pernah selesai. Sebuah pisang saja bisa menjadi sebuah teori karena berpikir, jadi aku tidak leboh baik dari sampah yanh juga ada filosofinya. Sama saja bukan!!  

Wednesday, December 21, 2011

Mata

Tidak ada seperkasa mata yang juga bukan berdiri atau harus tertutup karena angin. Aku bicara karena mulut terkatup bukan mata yang menutup lalu berargumen dengan pandangan sehingga timbul sebuah gerak resonansi antara kesepadanan gerak mata, berbicara atau berpikir dari apa yang di pandang kemudian menilai dan memutuskan terlepas sebelah sisi mana mata yang melihat.

Seorang pengayuh sepeda bernama Jill mempunyai mata dan dalam hal ini kepada matalah ia menggantungkan sejauh mana dia bisa bergerak cepat dan sejauh kaki mengayuh pedal. Suatu hari dia bertemu dengan Ken, seorang pemuda yang berasal dari golongan kaya, ia mempunyai mata sipit hingga terkesan saat ia beremosi dia seolah tidak mempunyai mata. Jill setiap hari bertemu Ken disebuah warung kopi ujung jalan setelah beberapa putaran melintasi kota yang dipikirnya sudah tak layak menjadi kota tempat manusia.

Jill bercerita pada Ken bahwa yang dilihatnya hari ini adalah lebih dari cara pandang atau jalan hidup seseorang, ketika menilai ia menggunakan mata, saat marah matanya nampak seperti bola tenis namun ketika ia menangis matanya bisa sayup dan siapapun yang melihatnya akan seolah terjun pada kubangan air matanya. Jelas Ken mencibir Jill tentang peryataan bahwa mata adalah segala pikir tentang memandang. "Aku bisa membuat kebijakan tanpa menggunakan mata!" Kata Ken pada Jill.

Ken mempunyai mata tapi bukan secara harfiah mata karena ia berpikir menggunakan nurani, bahkan ia lebih pilih menangis saat ia marah karena menurutnya manusia tidak berhak marah karena sisi kemanusiaan dan kedamaian adalah subjek utama yang ia terapkan pada sistem mata. Ken adalah seorang laki-laki dan kemudian membuat nilai ia adalah laki-laki cengeng dan emosional, walaupun Ken tidak pernah peduli hal tersebut namun tanpa disadari hal tersebut pulalah yang melahirkan salah satu cara pandang manusia. 

Jill lebih diam, namun karena ia senang dengan sisi kemanusiaan Ken maka ia pilih sebagai penutup kekurangan ia yang bermain dengan cara pandang yang berbanding lurus dengan logika. 

Mata, pandangan, cara pandang atau sekurang-kurangnya tidak lebih hanya menilai, saat Ken menilai Jill sebagai individu yang objektif dan subjektif lalu kemudian berargumen kepada Ken bahwa itulah sebuah gagasan hidup, Ken tertawa dengan mata yang bersembunyi. Dan begitupula Jill saat Menilai Ken dari sisi kemanusiaannya sehingga memuluskan nilai bahwa Ken adalah pribadi yang emosional atau lebih tepatnya sentimentil. 

Nilai, bukan kita yang menentukan dan itu sudah mutlak. Orang memandang dengan mata, padahal ia adalah sebuah bentuk dari kejujuran yang memproyeksikan kenyataan yang sesungguhnya terekam oleh otak, namun tetap saja bisa dimanipulasikan otak untuk menjadi sebuah kebohongan ataupun hanya pengharapan. 

Menurut Jill, representasi mata adalah saat melihat laut, tidak berbatas dalam sebuah ukuran, Mata bukanlah bingkai pandangan seperti kotak televisi dimana terdapat batasan yang membingkai pandangan, sedangkan mata? Ia tidak berbingkai dan mempunyai batasan pandang yang tentunya batasan kekuatan tentulah ada namun bukan batasan dalam artian bingkai kiri, kanan dan atas, bawah. 

Menurut Ken, mata hanya sebuah alat peranti merekam seperti indra lainnya yaitu mengidentifikasi visual dan sangat terlepas dari gagasan atau cara pandang, sedangkan menurutnya cara pandang itu bukan kalimat yang secara harfiah terartikan bagaimana cara melihat tapi memandang-berpikir logika dengan mata atau memandang-berpikir-merasakan lewat mata hati. 

Gagasan, cara pandang atau proses berpikir bahkan sebuah alat saja tidak terdefinisikan oleh bagian memikirkan dan proses pikir untuk berpikir dan membuat sebuah wacana apa itu mata. 

Jill dan logika cara pandang atau ken dengan mata hati atau nurani? Mata!

Monday, December 19, 2011

Tuan Waktu

Dari mana kau menentukan waktu hingga jatuh tepat 24 jam yang kemudian kau sebut hari? dari 24 jam tersebut terdapat 1440 menit dan 86400 detik kau harus memilih, bahkan kemudian jika terpecah lagi menjadi satuan terkecil sepersekian detik. Sebuah keteraturan atau sistem waktu yang merupakan keselarasan.

Bagaimana sakitnya waktu saat sementara dia berjalan konsisten dan kau datang dengan tidak sepersekian waktu dari umur waktu itu sendiri mengeluhkan kenapa waktunya hari kemarin, kenapa waktunya hari ini dan hari esok. Jika aku memasang waktu awalku jam 7 pagi maka akan berakhir hari ini hitungannya pada jam 7 esok, lalu apa yang harus ku lakukan hari ini? Dan waktupun tetap saja tidak berubah.

Seperti konsistensi waktu terhadap alampun sudah jelar itu tergariskan, ketika benih pohon tumbuh menjadi pohon besar, berkembang biak dan kemudian mati. Apa hanya karena waktu? tentu juga tidak karena Waktu sendiri hanya satu kalimat yang mewakili rotasi alam dimana di dalamnya terdapat keselarasan dan yang lebih utama adalah terhadap manusia dan alam yang sudah jelas sebagai mahluk hidup yang di naungi waktu.

Kita akan menggerutu tentunya saat bencana alam dan kemudian berkata bahwa alam tidak bersahabat. Padahal apa yang kurang dari alam ini yang sudah menyokong kehidupan kita lalu siapa yang tidak bersahabat?.  Begitupun hari yang kita kenal sebagai kesatuan waktu dari 24 jam waktu, ada yang mengatakan hari dimulai pada hari senin, kemudian ada jugayang berpendapat dimulai hari minggu, jum'at dan hari-hari lainnya. Siapa yang menentukan? Apakah ilmu manusia akan sampai pada hari pertama dimana Bumi mulai tercipta dan kemudian Tuhan akan berkata Hari ini akan dimulai dengan hari ini?.

Seperti sebuah pertanyaan saja yang kemudian akan timbul dalam benak semua yakni apa saja yang telah Tuhan ajarkan kepada Sang Nabi Adam A.S sebagai manusia pertama yang hidup di Bumi. Waktu adalah waktu! tidak perlu kepikiran juga dari mana pemahaman itu, Akupun terlahir pada sebuah tanggal, hari, bulan dan Tahun saat aku belum mengerti apa-apa. Itu kodrati bukan?.

Kita sendiri akan sadar mungkin setelah mencintai masa lalu, orang-orang sebelum kita dan buku-buku yang kita baca dan kemudian membentuk sebuah intelejensia bertanya dan berpikir. Waktu?

Berkuasa diBumi bukan berarti berkuasa untuk menjadi penguasa dan bergindak semena-mena terhadap alam yang sudah jelas juga sebagai serangkaian waktu yang manusia sendiri hidup di alam tersebut. Lalu untuk siapa keegoisan tersebut jika harus sadar musim hujan sudah menjadi banjir, tanah menjadi longsor dan musim kering lebih lama dari biasanya?.

Kenyataannya bukan alam yang tidak bersahabat, manusialah yang menjadi garang. Waktu juga tidak memperbudak, dia konsisten! tapi keluhan manusia yang menjadikan waktu sebagai bahan candaan dan pembunuhan disiplin bagi dirinya sendiri.

Sifat dasar manusia? Bangga dengan hal tersebut?

Sunday, December 18, 2011

Sebuah Ukuran

Jika membayangkan teori pengetahuan manusia mungkin tidak akan berhenti pada satu titik asal mula atau keberadaan kita, namun lebih secara aplikatif kita bayangkan bahwa kita sedang berada pada sebuah ruangan hampa udara yang berwarna hitam gelap, lalu terlepas dari pandangan seorang manusia lalu abaikan kita dulu dan gambarkan satu noktah debu yang melayang pada ruangan tersebut, mungkin berukuran 0,000,1 milli mikron yang jelas tak terpandang oleh mata manusia, kemudian dari beberapa partikel tersebut ada gas yang memiliki panas yang kita bayangkan adalah matahari di tata surya yang kita wakilkan hanya salah satu dari beberapa partikel yang ada di kamar hitam sebagai perumpaman kita.

Satu titik debu itu melayang dan tidal tergantung pada satu bagian dinding hitam itu. Secara ilmu manusia mungkin hanya akan berbatas pada debu yang melayang statis dimana didalam ruang hitam itu terdapat ribuan atau bahkan jutaan debu yang terklasifikasi sebagai tata surya pada pandangan manusia. Lalu sistem, ternyata debu tersebut berrotasi mengelilingi kumpulan gas yang berpijar dengan hitungan waktu yang presisi dan tepat. 

Bahkan belum berhenti disana saja, disatu titik noktah debu itu didalam nya terhadap kehidupan manusia yakni kita. Melepas pemahaman atau penggambaran deskripsi seperti apa seorang manusia kita lihat dari seberapa perbandingan ukuran-ukuran dari mulai kamar hitam, kemudian debu dan sekarang ditambahkan manusia yang berdiri lebih kecil dari seperseribu debu tersebut. 

Manusia itu kemudian berpikir dan ada tentunya seperti yang Descartes katakan, lalu kita urai lagi pada beberapa ukuran yang kini sudah menjadi mungkin beberapa juta sepersekian milli mikron dari awal yang tertulis. Manusia dengan sistem sendiri yang kita sebut dengan kemanusiaan yang terdiri atas otak hati dan raga. Ada apa di dalam sistem tersebut? Yakni ada berjuta sel darah yang terintegrasi pada sebuah sistem sempurna yang menjalankan detak jantung dan menggerakkan raga, seperti yang kita ketahui dalam anatomi tubuh manusia.

Seberapa kecil kita yang kita ketahui dibalik pengetahuan batasan terhadap alam semesta, mungin saja akan tidak pernah selesai pada satu titik saja secara deskriptif teori satu dan lainnya hingga seharuskan akan mutlak selesai pada teori penciptaan oleh Tuhan. Yakni sebuah alam yang sempurna terbangun atas sistem beserta batasan-batasan dan regulasi yang menjalankan waktu sebagai titian kita berjalan, seperti saat manusia menjadi renta dan kemudian mati.

Masih merasa besar? 

Saturday, December 17, 2011

Di Belakang kewarasan

"Hei orang gila!", teriak beberapa orang disekitarku. Aku sendiri berada pada sebuah persimpangan jalan menuju kepada kebaikan dan kejahatan sehingga cukup aku bingung dengan kedua tawaran ini. Dan tentu sudah jelas aku tentukan kebaikanku sendiri tapi dalam proses bingung itu aku dihadapkan pada orang gila dengan pemahamannya.

Orang yang menyebutku gila adalah Tun yang memproklamirkan kepada khayalak sebagai orang waras. Dia melemparkanku uang seribuan dan menyusuhku mengejar hidup, sementara aku tertegun pada norma waras dan kegilaan yang terlontar dari kata-kata mantan sahabatku ini. Putusnya sahabat ini hanya karena kata 'gila'! 

Wacana antara gila dan persimpangan ini sudah menambah bingungku sebagai manusia yang memilih sementara pakaianku sudah cukup lusuh untuk status sosialku, lalu apakah karena status sosial dari penampilanku atau dari cara berpikirku yang kemudian merealisasikan kata 'gila' seolah menjadi terpencil dari kewarasan manusia. 

"pembeda adalah pikiran yang menumbuhkan titik kembang pada kemampuan seseorang menjadi lebih baik, terlepas dari cara berpikir sehat ataupun tidak sehat yang terpenting adalah hidup", kata Tun suatu hari sebelum dia menghujat.  Selepas itu kemudian aku menuju kotak putih tempat merenungku di baris kedua kata-kata puisi yang kuciptakan dam otakku, kulihat wajahku telah lusuh sehingga kata miskin tidak lagi tepat sebetulnya karena aku sudah merasa cukup kaya dengan karunia dan kesehatan tubuhku. Tapi tidak! struktur sosial menggeserku pada sebuah titik miskin dan lusuh hingga aku 'miskin' kata mereka.

Disekelilingku sudah tak ada lagi peralatan menulisku setelah menjual beratus lembar tulisanku seharga biaya sekolahku yang harus kubebani pada kegilaanku. Aku kemudian menjadi manusia di kala terbelit kebutuhan dan harus menentukan status sosialku tapi tidak kubeli kepercayaanku pada diriku, aku menjadi bingung dan kala itulan Tun menghujatku 'gila'.

Uang seribu yang dilemparkan Tun untukku aku perhatikan hanya secarik kertas yang juga lusuh dan berbau, Otakku melayang secara waras pada tempo hari dimana baris kedua kotakku aku tinggalkan identitasku sebagai aku, lalu sejenak kupejamkan mataku dan memasuki titik kewarasanku. Aku gila tidak? dan sedemikian gilakah aku? apakah aku juga harus mengerti apa itu kegilaan yang terpisah dari naluri manusia atau justru kegilaan dan arti gila itu sendiri kemudian menjadi baur secara medis dan kondisi psikologi terhadap struktur pemikiran antara sehat dan tidak. Apakah itu kemudian hal itu juga yang menentukan kebaikan ataupun kejahatan? atau justru itulah pemikiran alam bawah sadar kita terlepas waras atau tidaknya.

Didepanku berderet orang-orang menentukan jalan sebelah kiri dan kanan sedangkan aku masih memegang uang seribu untuk membayar toilet yang notabene kini bahkan bertarif dua ribu rupiah. Aku tidak kebingungan lalu kenapa aku harus menjadi gila!. Itulah pilihan secara sosial terlepas berapa uang yang aku pegang sekarang dan apakah aku memakai alas kaki atau tidak! 

Masih terngiang pada masa kecilku saat aku menciptakan baris kedua pada otakku yaitu kotak yang bernama kenyamanan saat itu adalah kata-kata "Makanya berpikir!". Kata-kata itu sering terlontar oleh orang disekelilingku sebagai orang yang pintar sementara aku dengan kebodohanku dan menyudutkan aku pada posisi 'gila'. Tun adalah salah satunya.

Aku dan kamarku adalah penjara berpikir pada proses ruang kenyamanan yang kemudian berubah menjadi ruang renungan. Berpikir untuk meloncati fase tapi aku tidak bisa menyuap waktu atau bahkan berpura-pura sakit gigi dan menyatakan diri untuk menunda waktu. Hasilnya aku berpikir pada kenyamananku, sedangkan itu juga tidak pernah juga menjadi terpikir atau kepikiran, aku hanya berpikir dalam menentukan dan bingung saat memutuskan tanpa bingung saat akan melangkah. 

Namun tetap aku dianggap gila! dibalik kewarasan yang tidak bernama normal ataupun akal sehat. 

Harga Sang Sepatu

Prajurit itu tidak membeliku, mereka hanya menerima apa yang seharusnya menjadi penyelamatnya. Aku adalah pensiunan sepatu boot sang prajurit yang telah mati terkena penyakit hati.

Saat peperangan manusia belum lagi dimulai akupun hanyalah selembar kulit kering yang mencari titik nadirku dalam sebuah kehadiran hidup hingga sepersekian waktu aku berpasangan untuk tuanku. Aku tidak mengeluhkan keberadaanku karena aku bukan prajurit yang berperang terlepas dari masalah harga diri ataupun hanya karena perbedaan.

Aku menjadi sangat bangga karena melayani tuanku di masa peperangan yang sering menjerumuskan aku pada suatu keadaan anomali yang seharusnya aku bisa mengahardiknya sebagai seorang setia  yang hanya bisa diam. Saat perang sedang berhenti tak jarang tuanku menyemir aku hingga menjadi sosok seorang laki-laki dengan kebanggaannya, terlebih ketika uang 10 ribu yang diberikan tuanku di terminal itu kepada seorang anak kecil yang tidak beralas kaki menjadi manfaat besar bagi dia. Aku bangga bisa menjadi mata pencaharian orang di sekelilingku.

Ketika berperang, aku bukanlah hawa nafsu atau harus takut untuk mundur karena aku tahu kemana langkah harus kuikuti walau terkadang sang prajurit, si tuanku itu harus bersembunyi dan membuka egonya sendiri sebagai manusia. Menurutku bukan kepahaman saja ketika aku harus menjadi pengikut setia karena aku sudah ditakdirkan seperti itu tanpa harus peduli kenapa aku suka menjadi sepatu.

Jika sebuah norma adalah bentuk pemahaman yang menjadikan kenapa harus mengerti dan eksistensi siapa aku dan siapa aku. Lalu kemudian berapa banyak lembaran yang harus terjawab padahal jawabannya adalah ada dalam kepala mereka. Aku sendiri sudah banyak melalui peperangan manusia yang katanya adalah harga diri dan mengikat norma tak terelakan seperti kami tidak pernah punya hati. Seorang bawahan tunduk kepada atasan dan atasan tunduk kepada Yang Teratas, lalu dimana letak rencana manusia yang kemudian berusaha menang terhadap manusia lainnya? apakah ada pemahaman.

Sekian waktu mungkin kebanggaan akan hilang mengingat waktu terus berjalan dan menjadi usang, saat kematian tiba. Sang tuan, si perkasa dalam perang, si pemanggul senjata dan setia terhadap atasan serta norma memilih mati karena penyakit hati memecah belah logika saat perempuan yang dicintai mulai berlati dan mulai tidak cinta. Aku sempat bertanya apa itu kesetiaan pada beberapa jejak kulangkahkan saat perang namun jawabannya hanya ada disebelahku. sebuah ukuran dan cermin terbalik yakni pasanganku. Maka mungkin aku tidak akan di katakan sepatu jika tidak berpasangan. 

Sebenarnya bukan logika saja yang mati jika harus paham nurani sebagai hidup entah manusia atau bukan, toh yang lain hanya bagian dari alam semesta yang berwacana hingga jawaban yang harus dicari adalah bentuk mengerti terhadap apa yang di tanyakan.

Ketiadaan itu sudah dimulai, dari tuanku yang kini hanya memiliki secarik kafan dan nisan tanpa logika. Kepahlawanan mati dan sang juara adalah cinta!

Di rak sepatu yang semakin berdebu tanpa tuan akupun mulai usang dan sudah hampir jelas aku tidak memberikan lagi manfaat tanpa sepasang kaki berani atau sepasang kaki lain selain tuanku sang prajurit. Malam hari Anjing yang lewat depan rumah tuanku mencuri pasanganku hingga keesokan paginya aku sendiri kehilangan bentuk renunganku yaitu cerminanku dan pelengkap eksistensiku.

Lalu apa? aku tidak mati hanya kemudian menjadi sampah setia dan sebuah bentuk kenangan yang terpajang pada kulit-kulit keriput tanpa harga.

Friday, December 16, 2011

Antara Hitam dan Putih

Dalam beberapa langkah aku berhenti pada sebuah canvas putih yang terpajang di dinding  galeri yang tak kutahu siapa pelukisnya. Sebuah canvas putih tanpa bingkai yang bahkan tersamarkan apakah ini adalsh sebuah lukisan, aku tertegun bukan mencoba memahami lukisan tersebut tapi tertegun apa yang pelukis pikiran saat dia memajang canvas tersebut dengan judul 'kosong' itu. 

Aku pikir sebuah lukisan adalah makna tergambar dengan goresan cat ataupun tinta pada sebuah media seperti lukisan lain. Ku coba telusuri canvas itu setiap detailnya dari kiri menuju kanan dan dari atas ke bawah tapi tetap tidak kutemukan sedikitpun tinta ataupun noda pada kanvas tersebut. Aku berulang kali mencari pemahaman  pengaduan si pelukis,   aku pikir setiap aduan seni adalah bentuk pengaduan seseorang pada pena, atau media apapun, mungkin itu adalah kisah, cerita atau gagasan. Sejauh ini semakin aku paham entah kenapa kemudian aku merasa sedikit sunyi.

Aku bertanya pada bayanganku di ruang sunyi itu, karena ternyata lukisan itu terdapat pada satu ruangan khusus yang bercahayakan putih dan menyamarkan lukisan itu sendiri.  Lalu ku ulang pertanyaanku lukisan tersebut hakekatnya ekspresi yang bagaimana? tanyaku. 

Mungkinkah ini adalah sebuah pemahaman bentuk yang tertata justru untuk memisahkan penggambaran sepi dari titik hening terhadap beberapa warna yang justru menghadap dan hanya mengundang decak kagum pengunjung galeri tersebut.  Aku mengambil jarak pada lukisan tersebut dan berdiri pada pintu yang juga sepertinya khusus dibuat menyamarkan dinding sehingga terkesan tidak ada sedikitpun batasan garis pada ruangan tersebut. Canvas yang tidak bernyawa itu seolah mengartikan sedikit kejenuhan pada warna, sebuah ruangan perenungan  dan momen pengendapan cerita terhadap apa yang sudah dilalui bahkan setelah melewati beberapa lorong yang begitu penuh warna dan para kurator ataupun pendamping yang menjelaskan arti serta hakekat ekspresi sang pelukis. Ruangan ini terdapat di ujung lorong tentu saja tanpa ornamen ataupun ekspresi swhingga menunjukan kepucatan dan pertanyaan kenapa dan kenapa. 

Aku diam bukan tanpa kata saat ku dekati lukisan tersebut dan mulai kuraba bagian tepinya lalu menjelaskan arti sendiri terhadap hidup, sementara warna selain putih hanya ada pada diriku. Hitam kulitku dan pakaianku yang juga hitam seperti memberikan bahasan tersendiri antara pembeda dimana titik hitam adalah kekotoran jiwaku dalam ruangan yang serba putih itu.  

Kali ini aku tetap diam dan memperhatikan sekelilingku dimana terdapat cahaya putih yang juga tersamarkan oleh warnanya, hati aku berteriak pedih yang menjauhkan segala rutinitasku dan menelanjangi pikiranku dan bertanya siapakah aku?. Apa yang menjadi pembeda untuk dipahami dan di mengerti saat tangan hitamku menempel pada satu bagian lukisan itu kemudian berbekas telapak tanganku. 

Dimana letak kesadaranku?

Aku bahkan tak mampu bangun sejenak tertunduk seolah aku mati dan berada dalam dimensi yang berbeda yaitu dimensi manusia dengan segala kesombongan, kerakusan, kebencian dan pertarungan-pertarungan untuk menancapkan eksistensi dengan ekspresi penuh warna. Aku sendiri!

Hening dan sesak nafasku berjam-jam berada diruangan itu, sebuah hakekat ekspresi yang kini ku ketahui dalam implementasi perenungan diam dan sadar siapa yang menjadi warna atau noda terhadap nuansa yang sengaja di buat putih. 

Ruang paham dan ruang diam sekaligus mencetak ideologis akan warna hidup sekaligus ruang sadar terhadap eksistensi tanya. Siapa? apa? dimana? dan kenapa? 

Tidak berpikir ada

Kopi dan berbicara tidak sedikit harus memecah sunyi atau dengan gelak tawa. saat cermin tercipta ia berpengalaman bahwa hari ini akan menjadi hari ini. Dokter Emerald di sebuah tepian danau Cileunca saat dingin menusuk bercermin pada dinding air permukaan yang berkabut, Jika segelas kopi adalah kesadaran maka biarkan aku paham dulu untuk bercermin. Dokter muda berseru kepada seorang hitam legam di warung kumuh yang hampir rubuh. 

Pada dinding air dia sentuh dengan ujung jari memecah pencerminan kemudian bertanya, Jika ini adalah pemahaman kenapa bayangan ini tanpa nyawa kenapa dia bergerak menghilang? atau dia takut dengan hidup itu sendiri? Dokter Emerald kemudian merenung dan diam laksana patung, saat kopinya datang oleh si penjual warung yang tubuhnya hitam legam. 

"Saya datang dengan menari ketempat ini untuk menyediakan kopi Pak Dokter". 

Pemahaman sadar untuk berpikir adalah kenapa harus kopi yang tersuguhkan bukan segelas anggur yang mengangatkan, lalu Dokter Emerald mencoba melukiskan gambar hidup di atas tanah menggunakan ranting yang berserakan. 

"Sebuah pemahaman filsafat adalah pemahaman terhadap kopi itu sendiri" Kata sang penyaji kopi!. 

Cogito ergo sum ternyata bukan aku berpikir maka aku ada, pesanlah secangkir kopi dan kemudian pahami. Seberapa ruang refleksi atau ruang hening yang harus diam untuk tertidur pulas atau justru hendaklah berpikir sebagai rangkaian kalimat paham dan diam. Kopi hanya satu kata saja seperti rokok atau hidup yang juga satu kata saja sementara kata rokok adalah asap yang keluar kemudian mengepul beberapa masalah sebagai pelampiasan hati. lalu kopi? Apakah hidup itu sendiri bukan pelampiasan? atau justru pembunuhan untuk mengerti hidup. sementara hal ini belum melebar pada cinta. 

Penjual hitam legam itu duduk diam di sebelah Dokter Emerald, Dia menepuk bahu sang Dokter dan mengadahkah tangannya. "Itu tanda sabar dan solidaritas sedangkan tangan ini meminta bayaran hidup" katanya. Dokter Emerald tersenyum.

Hidup dan pemahaman bahkan terpisahkan oleh bentangan kebutuhan dari hidup sendiri. Dia menengguk kopinya, menelannya tanpa merasakan. Pahit adalah bentuk simbolis saja tentang susah lalu merenungi ruang hening diam apakah setara dengan masalah yang ada? atau hanya sementara saja sebelum kita paham? Berapa harga secangkir kopi yang agak pahit ini dan harus tambah berapa harga untuk memaniskan kopi yang akan tidak menjadi kopi setelah manis.

"Kamu bilang kamu menari apakah itu termasuk hidup juga?" Tanya Dokter Emerald. Si Hitam legam tersenyum.

Takkan ada hari bila hujan sementara untuk menari saja tak kan pernah tahu dan diam sejejak berapa langkah. Untuk itu pun sudah hilang pahitnya, tersisa ampas kopinya. Mengunyah diam namun kemudiam berbahasa ternyata kopi saja tidak cukup.

Wednesday, December 7, 2011

unfaithful discourses

She was standing in front of a mirror and asking how can it be like this, how can this life was became a burden on her thought and asking what is truly life in socialism where one human is connected to others. Loving, being in love or even falling into deepest love and end up in missery.

"I love today, where I'd put my feet to stand and no body was holding my arms. I'd just wear my shoes in case I need to run and I need to step crossing the reality which I'll meet after the minutes my written plans as an argue to my mind".

Then I took a coffee not far from my stand, it's bitter definetely as usual it became my strength and my vision on life. I moved my arm as the process of life and hard works that I have been doing all this time. I poured a cup of hot water and drink this life inside my coffee, there are nothing different with the last day and it is regular things to do in the morning. The thing made difference is now I'm standing in front of the mirror which I bought from some friend who named a friend.

"I can't take my eyes off the mirror, I'm able to see inside my self, even it couldn't answered all my question but I'm freeze and doesn't move after drank a cup of regular coffee. What's wrong with me?  If there is a connection between human beings why I couldn't choose? what I am? and where I'd stand while everybody I knew was left me for nothing. They came and go soon I'm necessary needed, is it humanity?".

She's asking to the mirror and watching how her shadow asked the same questions to her selves. She's standing while her shadow was watching her.

"Is it my fault if others loving me while I couldn't gave it back? am I has no right to refused all the thing that I didn't like and choose who's I'm preferring to love? am I the victim of my own which built on my character where I'd put my self as human who tried the best for my self? who are you? you're not my self who can understand more than I do. I do has my own life and everything is running on my path and why you're inside my selves and taking what I shouldn't think of? What are you?".

Listen to all those question the shadow now is crying, she bow and stopped looking at the mirror. the tears are falling flowing like a river which met the ocean, She's still standing and her feet are shaking now. She dropped her kneel to the floor and still able to see her reflection on the mirror.

After hours she's kneel down and stopped to cry she held the surface of the mirror.

"If I am a human being.... what should I become after this? where friends become an enemy because of my cause even I'd never realized what I've done to them. Where a love inside of me is torching me as a fire where I should sacrifice my selves to be on the fire, indeed I'm burning but then I should die because of the heat. Should I become a person who hate the night and start to wish that the day will never rain and I can see the sun every moment of my life?. What I am now?. I do not need any judgement or value from others because I love my self as an egoism of knowing my self. Tell me if I was wrong!".

The day are never be forever on the daylight, it rotating following the times. As her shadow now become old and dirty because of un-answered questions. Where did the answers? or it only reflected by a reality of judgement, where others only made a judgement without knowing ourselves?.  What is true reality? which one is the truth and lies?.

The mirror also silent and which side we should look at?. is true we're a victims?.  why we were made us a victims? we were made a plan and made an option, but is it our power to make it real? hardworks is only applications where we should enter the process while the result is never know.  why us often make a discourse and made our self within the pain while we are able to stand and erase those sorrow and just be today?.

Where is actually the mistakes?


Tuesday, November 29, 2011

Humans in The Global World

It's about judgement, where it simply we can get only by our performance or our action. We're searching for our values and price of ourselves, how precious or how bad we're which than determine our quality in society. What we're in front of the thousand human or who we're in front of someone who will make a judgement about us. Are we need those? are we need a value due to our society and what judgement do we will get? Human being? society? or as a personal?

Human beings means a lot of human who lived in the society, it could be nation, region, village or even a family. When we build a family what are they seeing from us? value? inner of us? or even they didn't see us at all? Surely this is about values, our quality and our ability which seen by others. As we feel love to a girl, what did we saw from her? performances? faces? or any of it which then we made a value whether this girls are good or not. That's the fact of society! Some people are feel too shy do opened them selves but some people are have enough courage to shown what he or she really are and we can't resist it as we also make a judgement to others.
Is it wrong? NO it is called humanity and basic instinct of human.

But beyond of all those values which given by others what is actually important that could be a development for us or even it also can destruct our mentally and thought. What is actually happens as us in the society and as personal which sometimes feel do we need those value or not. 


As a structure human are develop on their own brain and their own heart, they're thinking what they should think and act what they should act even in the reality it can be covered by a pretenders which make a lie of heart and mind. Who's mistakes is this?
No, there are no mistakes actually. What made a mistakes are when we are didn't recognize ourselves, sometimes we're focusing on others judgement without knowing our judgement on ourselves. Why should we judge on ourselves? it is important on my thought, it necessary to asking why because others judgement it can be a failures where they can simply make a judgement while they actually didn't know what we do or what we feel. They only judge the cover of us! Should we care? NO but in times we also need their judgement.


Let see our personal and side the society things first to saw what really we are and are we need those judgement, values or prices. Who we're? Who I am? Where are we? Where I am? What are we? What I am? Might be those are a simple question that often appear in our lives as a basic thought of philosophy to knowing the law of cause and effect. I am exist because I have parents, my parents are exist because my grandparents and it continues as a long road, there's a stopped where is it? The stopped should be on a question who is the creator of human for the first time. and it would be answered GOD, Who also created this world full of function and many balances that happens in this world. So who we are? or Who am I? we're God creature which given ability to think and to feel for then make an options of our lives. 

As a basic thought We are determine our own quality, did you ever realize that? well I'm not a philosophers who made a discourse what are the basic thought and what are the thing as the first happens in this world but the important which I wanna say is We're knowing ourselves as who we are and what we are in the present, today or even in the futures. We are making plans but our plans is nothing compare to God's plan, but anyway indeed we surely needs a plan even what happens next will be different as our want or as our will. but did you ever realize that everything always happens because of a reason and it always be the best thing for us. When we got a problems and it make us hurt, did you ever realized that the next day or someday you'll understand what is truly happens. And for that I would say We're knowing ourselves as a tiny creature if we're comparing to this massive universe. But we're not an emptiness, we're something which alive and able to think and made a causes to this world.


We're often be the prisoner of ourselves, we made those boxes and we're entered into it. But it not to know who we're but make our own limitation. What was the connections between knowing our selves and knowing our environments. It is absolutely connected because we are not able to live as our own, we needed others to provide things that we are not able to provide it, also it is important to know ourselves to know our ability and how fast and how far we are able to move. In other word we need to know our stand, positioning! 

Position which determine what should we act, what we think and what we should care. Humanity, socialism, personal, environments, I am, we are, They are and us as globally. 


Sunday, November 27, 2011

Stucked In a Reflections

As I wrote :

The Joker was sad when he saw himselves reflected on the mirror, he saw sadness inside his eyes without pretending that he should keep smiling and it painted on his mouth. Is he lying to himselves? The answer would be no, why? It called consequences, when he choose to be a joker or a clown he decided to make him selves as laugh trigger, not only by saying but when others seeing his face. Yes they human also who able to feel sad and angry but as a personal not a clown or a joker. And you got stucked on your own reflection!

I bought a coffee and then drink it in an evening on my rooftop where I can saw twilight, the sun is goes down. I have my own thought trough my coffee, it is when I seen many similarity between all process of life with a cup of coffee. Why? Bitterness? addict? overdose? discourse? serve? joy? power? spirit? or even it a weakness, it is when you find your selves alone and nobody is beside you hold you when you got mind stucked. Not because of the coffee but because of discourse of your selves who playing trick with your own dream and your own past. Why should hate the past if it can motivate you to the better future or why should against the future why now you're running for it. Where were you at the last minutes just now?.

I have a music player inside my room where I always keep it on when I was around, I played some Jazz music for my ears. I listened how The angry man Charles Mingus played his bass and kickin out my soul to fly to another dimension and those time are where I put all my birden inside my cupboard to relax enjoy my life. Should I understand what is Jazz as I questioned what is life? And the answer would be no, for some part we don't need to drown questioning what is actually beyond our thought. So what should we do? We're seeing ourselves through our own glasses and make a conclussion about that as a discourse then evaluate it to be the next step.  It isn't hard, we're what we are who has own thought for possitivity or any negativity that we're created.  

I love the rain as much as I love how the sun is make a light through my morning window, it kins of hope for my self as a good start and as a spirit to keep my self awake and realizing that the day still rotating and it should be a process where I must step a head from the  last step I've  taken. Why should I complained when the rain is didn't fall on a daylight? It is nothing to do with what we want or what we need, the nature has own balance when it must have a rain or when it should sunny even there is human factors on it but the fact is human factors are only mistakes which made un-balance to this nature.  Surely the rain was a gift, but why they were hate when it rain? is it because the flood? or they cried because of human systems which made the environtment as their standing without knowing what they should do or what is the causes. Is it ego? or they never care? Which humanity their seeing if they were blamed each other without make any solutions? are they creating their own wars?  or even they are digging their on grave?.

Love!? Which love? what kind a love? whom to love? humanity? conciousness? reality?. Is it when a man kissed a woman then they called fall in love or love without falling?. falling from logic and conciousness to get and understanding love? Soulmate? wife? husband? Is it when a girl held my arm and she said "my love is everlasting" then they separated after years and forgot their promises?  Is it when you're not able to sleep and all you thinking of is only someone you loved? braverry? courage? Is it someone who made a coffee in the morning and serve it to you and no matter what it tasted it will be always delicious because she made it with love?  Is it someone who take care your children and watch them grow then she always smile and kiss you when you get home?. Love a Human or even larger than that? Our vertically love, Love to God Who has created us with all we got now and what we faced right now. Did you ever think about that?

I'm wearing a shoes as a protector for my feet, when I stand in a gravel or in a hot dessert then I wont get hurt and feel hot. Further even I'm able to run faster and further than when I used my naked feet to run. Is it the philoshopy of a stand? Believe? Fate?  Trust? 

Mirror also able to lie!  sometime it doesn't similar with our stand, sometimes it seems further than we stand and reflecting but it sometimes is more near than we thought.

So where did you stucked?