Monday, January 2, 2012

Simponi

Satu titik berarti dalam gelombang cerita tak berpendar dalam sebuah simponi alam, semua selaras pada waktu dan tempat yang telah ditentukan seiring waktu yang tak terkatakan, dia bisu namun tidak diam. Sebuah nilai mutlak terhadap proses hidup yang menua, terlahir dari mimpi kemudian bermimpi pada akhirnya berhenti bermimpi.

Waktu betul sudah berganti bahkan dari satu huruf ini tak kan pernah sama, dia tidak mengendalikan dalam hidup namun dia berjalan tanpa titik diam.

Angin bukan tersenyum, seorang perempuan menjadi seorang ibu, anak laki-laki menjadi renta seperti pohon yang menua dan mati. Kemudian seorang anak terlahir dan menangis saat berusaha bernafas. 

Sampai kapan? itu berarti waktu!

Di Sebuah Warung Kopi

Meja 1 :

"Kau tahu jika aku jadi presiden nanti"
"Aku pilih tidak tahu saja kawan"
"Tapi benar!"
"Menjadi RT saja kau sudah korupsi"
"Tapi tidak"
"Apapun lah yang terjadi"

Meja 2 :

"Sayang, maukah kau mencintaiku?"
"Biarkan aku berpikir!"
"Aku mencintaimu lho"
"Tapi aku belum berpikir!"

Meja 3 :

"Pelayannya mana ini?"
"Mau pesan kopi kah?"
"Aku mau pesan hidup!"
"Pasti obat-obat itu"
"Bukan itu hidup yang di beri kemasan instant"

Meja 2 :

"Kau tahu aku tak bisa hidup tanpamu"
"Tidakkah kau lihat aku sedang berpikir"
"Tapi aku butuh jawaban"
"Sebentar seperti aku akan punya jawaban"

Meja 1 :

"Aku akan mengumpulkan orang seperti kita"
"Untuk apa?"
"Akan ku angkat jadi wakil dan menteriku!"
"Biar apa?"
"Solidaritas teman!"
"Untuk dikorbankan kepada KPK maksudmu?"

Meja 3 :

"Seperti mie saja, hidup pun sekarang instant"
"Hei aku ini konsumen yang berhak menentukan hidup!"
"Lalu aku akan jadi pengamat politik"
"Apa yang akan kau catat?"
"Mungkin resep kopi dan obrolan para tukang becak"

Meja 1 :

"Kau tahu teori manusia?"
"Maksudmu?"
"Semua yang punya kuasa termasuk uang adalah benar!"
"Kau punya uang?"
"Tidak!"

Meja 2 :

"Kita sudah berapa tahun tinggal 1 kamar"
"Tapi aku belum menjawab"
"Aku mencintaimu!"
"Sebentar!"
"Apalagi yang kau tunggu!"
"Ini dia jawabannya!"
"Apa?"

Meja 3 :

"Memang yang berhak hidup siapa?"
"Jangan menjadi gila! kita semua punya hidup!"
"Tapi kau makan obat haram!"
"Itu kopi yang ku pesan"
"Tapi biar apa?"

Meja 2 :

"AKU LAKI-LAKI! DAN KAU LAKI-LAKI!!!"

Meja 3 :

"BIAR AKU SADAR BAHWA KOPI ITU PAHIT!!"

Meja 1 :

"LALU KENAPA KAU INGIN JADI PRESIDEN?!!"

Pelayan datang dengan berpakaian warna putih dan membawa beberapa tabung obat

"AYO KALIAN SEMUA, SUDAH SAATNYA KALIAN MINUM OBAT TERUS TIDUR!!!"

Sunday, January 1, 2012

Surat dari masa lalu

Kepada anakku :

Apakabar Bulan? Sudah tidak kulihat berdiri wajahmu saat kepal tanganmu masih memukul ayahmu merengek manja berharap Ayah berikan cahaya Bulan untuk tidurmu?  Bagaimana Jakarta Gadis kecilku? 

Dulu kau sangat membanggakan Jakarta mu dan teman-teman sepermainanmu, dimana selalu ada cahaya terang yang cukup untuk mengalahkan kegelapan ruanganmu. Sayur segar yang bisa selalu kau tunjuk untuk makananmu, daging-daging yang rapi tertutup plastik berlabel harga yang mahal dan semua kesenangan pandangan atau hanya secangkir kopi mahal dan tertawa di antara larutnya kesibukan manusia yang membicarakan satu sama lain.

Kau tahu? Ayah sudah menjadi seorang anak kecil yang bisa kau ajak bermain sekarang. Di tempat ayah sekarang terbentang Danau Ranu kumbolo di pertengahan Semeru seperti saat melihat kau sedang berenang di water park yang harganya selangit demi sebuah air hidup. Ayah sedang menyaksikan seekor belibis yang sudah hampir punah di pinggiran danau, mengingat naluri manusia yang selalu kau tanyakan padaku saat sebelum tidur. Kenapa manusia begini dan begitu? Anakku di tempat aku duduk sekarang tidak ada orang yang membuatkanku secangkir kopi atau hanya sekedar berteriak kemudian dunia menjadi milik kalian. Seekor belibis itu hanya temanku memandang masa depan, satu tahun sudah terlewati dengan segala euphoria dan hiruk pikuk Jakarta, suara terompet dan gelegar kembang api sebagai pembatas tahun sangatlah berbeda dengan disini.

Ayah tak pernah tahu ini tanggal berapa sehingga Ayah tak bisa mencerna waktu, hanya matahari saja sebagai pedoman sholatku. 

Seperti apakah kau Tahun sekarang pada waktu ayah tak bisa kembali hidup dalam kesadaran orang tua yang menyaksikan betapa material sudah semakin memainkan perannya pada dunia. Disaat perang bersahutan demi kebanggaan dan bukan kedamaian ataupun keyakinan. Saat kata-kata benar menjadi keraguan dan pem-benaran melebihi kebenaran itu sendiri, Ayah harap keadilan juga tetap akan menjadi keadilan ketimbang peradilan di waktu sekarang saat memasuki era baru penanda dunia sudah tua dan kedewasaan sudah menjadi barang langka.

Di tempat ayah berbaring kemarin ayah masih ternaungi sebuah pohon besar yang rindang, di mana sebelah sisi kananku bisa kulihat kemegahan Semeru yang perkasa tapi sekarang sudah hilang karena telah tumbang oleh keselarasan alam dan kembali tumbuh sebagai tunas muda. Apakah kau masih bisa melihat pohon di Jakarta anakku?  Pohon tidaklah seperkasa gedung-gedung bertingkat seperti ceritamu dan ketakjubanmu pada tempo hari saat kau sudah mulai berpikir. Keindahan yang menutup matahari saat senja dan menanamkan beribu kecongkakan dan peng kastaan terhadap golongan kaya dan miskin, dimana bukan tanah lagi yang terpijak hingga tak ada lagi bau hujan yang menyejukan saat tanah sudah tidak ada, jalanan dan beton yang menutupi resapan-resapan air menuju kelaut.

Air disini sangat jernih anakku, sehingga aku masih bisa meminumnya dengan sesuka hatiku tanpa harus membayar ataupun menunggu giliran di tangki-tangki penyedia air bersih ataupun menunggu proses filterisasi dan pemurnian kali ciliwung untuk di minum yang tentunya juga harus menggunakan uang. 

Udara disinipun sangat jernih sebagai dunia lama yang tertinggalkan, kau tahu berapa banyak uang yang harus ayah keluarkan untuk membeli oksigen tabung untuk ibumu saat beliau terkena asma? sangat mahal anakku dan semoga saja kau pun tidak harus membeli oksigen disana atau harus berebut ruang untuk membeli air conditioner di gedung-gedung pencakar langit. 

Halaman belakangku terdapat hutan cemara dan pinus yang selalu memberikan ayah waktu untuk berpikir bagaimana mereka memberikan keseimbangan hidup untuk manusia, apakah kau disana punya halaman belakang juga anakku? tempat bergelantungan dan bercanda dengan kicau burung belibis ataupun suara serangga sebagai pengantar tidurmu?

Apakah waktu masih berharga disana? seperti jarak yang tidak ada batasnya. Mobil bertebaran, kereta api dan pesawat super cepat yang bisa membunuh waktu saat kau harus berada tepat waktu sebelum jamuan makan. O iya... apakah makanan disana juga masih seperti dulu? kau tinggal mengangkat telepon dan orang akan memasaknya untukmu dan mereka memberikan jaminan dalam 30 menit kemudian pesanan akan diantar? Di tempatku sekarang ketika rasa lapar sudah datang aku harus memancing ikan di Ranu kumbolo ini dan itu terkadang menghabiskan 1 jam waktuku kadang lebih untuk mendapatkan ikan.

Apakah adik-adikmu selalu bangun pagi untuk sholat shubuh anakku dan berangkat sholat jumat di mesjid-mesjid samping rumah? tentunya hanya 5 menit saja mungkin kau akan menemukan masjid dan punya waktu untuk melakukan sholat sunat terlebih dulu. Ayah disini harus berjalan 4 jam lebih untuk mencapai masjid di Ranu Pani untuk kewajiban sholat jum'at. 

Apakah cermin di tempatmu sekarang masih bisa dengan jernih merefleksikan cantik parasmu saat kembali dari pusat-pusat kecantikan? di tempat ayah sekarang hanya refleksi dari danau yang bisa menggambarkan ayah sekarang sebagai perenungan ayah terhadap ayah sendiri. Ayah bahkan lupa kapan terakhir ayah bercukur dan wajah ayah saat terakhir ayah harus meninggalkan kalian karena ternyata untuk kasta sosial ayah, ayah hanya seorang petani kecil yang sudah tidak bisa bertani di Jakarta. 

Apakah perang sudah usai anakku? 

Perang dan tuntutan akan perubahan impian dan perang siapa yang berhak dapat lebih banyak serta siapa yang lebih licik? Peperangan yang ayah hadapi disini adalah peperangan hati dimana musuhnya adalah kemalasan ayah saja dan tentu itu adalah hal yang paling berat ayah lakukan. Adzan tidak terdengar dari atas sini hingga ayah harus tahu waktu yang tepat untuk sembahyang bukan seperti disana saat adzan bertautan namun hanya menjadi nyanyian penghormatan saja. 

Sudahlah ayah mungkin sedang bermimpi untuk mengirimkan surat ini untuk kemudian terbaca di masa yang akan datang kelak saat teori keseimbangan hanya berlaku saat sisi lainnya adalah uang dan lainnya adalah berapa harga yang harus di bayar.

Maafkan aku anakku. 

Yang selalu mencintaimu
Ayah-

Catatan sang Pendaki

Aku sudah melangkah sejauh kaki tidak dapat melangkah, sudah beribu kilometer jarak yang seharus tertapak sementara aku hanya beberapa puluh langkah saja bahkan dengan terlelap tanpa melihat ke depan.

Dihadapku berdiri tinggi Mahameru yang menandakan seberapa tinggi harapanku ku bawa, disamping ranu kumbolo yang tanpa ragu dan arcapada yang menandakan waktu seharusnya ku tapak mengiringi perenungan seharusnya dan mengenal siapa diri dan alam dalam harmoni manusia, alam dan Tuhan.

Secangkir kopi sore ini adalah kawan sejatiku yang mengiringi kamu diantara kalian yang terpendam dalam dendam serta sedikit perjuanganku mengenal masa dan massa.

Jika aku mengharuskan dewasa, maka aku takkan pernah tua tapi aku ditandai waktu dimana aku takkan pernah bisa berada ditempat yang sama karena waktu adalah ruang yang aku berada di dalamnya. Sementara kabut dalam ruangan yang ku sebut waktu itu adalah penghujung tahun ini aku masih mendaki pandang pada kawah di puncak semeru yang perkasa.

Di antara batasan waktu ada kau sebagai transisi tapi kau adalah hujan yang diam sehingga aku sendiri harus mengarungi waktu dalam kesendirianku yang telah kupilih sebagai aku bersama kerusakan cara pandangku.

Aku tidak akan membawa catatan hari ini dan biar alam yang akan mencatatkan namaku pada jejak langkah ku yang pernah tertapak diantara bebatuan rapuh jalur pendakianku untuk mengerti, mengerti keseimbangan makna yang tak terlafalkan baik itu vinta yang berkorelasi dengan hidup ataupun hubungan gelap secangkir kopi yang rasa estetika mata dan pandangan ataupun gagasan. 

Revolusi adalah cara berpikir yang berakar dari pandangan atau cara berpikir dan maka itu aku tak membawa hidup keatas sana sehingga ketika pulang kelak aku menjadi manusia yang mencintai alam dan sadar keberadaanku ada di tengah-tengah teori penciptaan oleh Allah SWT. 

Sadarkan aku dalam kebohonganku, dan kata-kata yang terkalimatkan pada barisan buku-buku yang tak sempat terbaca olehku. Bukan oleh ras ke-suku-an ku tapi perbedaan yang harus aku jalani dalam perbedaan prinsip dan pandangan yang ter normakan dalam pikiran manusia dan mulut yang selalu berujar resah dan keluhan.

Sudah habis pula kopi siang ini, dan saat mulai kuikatkan tali sepatu ini tandanya aku segera melangkah menjauhi manusia dan dekat dengan kematian yang tak di undang namun tak tahu kapan pula akan datang. 

Debu vulkanik sudah tampak seperti sebuah momok menakutkan dan angin melarang kami untuk tinggal diam hingga aku meninggalkan hatiku dan melai melangkah menuju lautan pasir dan bau belerang yang mulai tercium oleh inderaku.

Aku jatuh di ketinggian.

Aku bangkit dalam keheningan dalam satu waktu yang aku belum pernah kunjungi padahal aku ingat beberapa tahun lalu aku berdiri ditempat yang sama, sebuah pekuburan tanpa nama dan kesadaran akan harga hidup yang harus kubayar setelah tiga puluh tahun menginjak hidup.

Hari ini akan turun hujan.

Dibalik kecintaanku akan hujan aku sudah berpikir ternyata lebih jauh dua hari saat aku berada di puncak sana dengan gegap gempita kebebasan berekspresi dan bernyanyi, namun aku tahu bukan tentang itu aku mencintai hujan dalam filosofi kehidupan tanpa gentar dan mengusir takutku akan diriku sendiri. Sebuah ego yang kujinjing untuk ku persembahakan sebagai pengorbanan pada kawah berbau belerang di puncak sana.

Biarkan aku menjadi beragam hari ini.

Hingga aku kehilangan jejak langkahku di napak tilasku beberapa tahun mendatang saat sudah kutemukan hidup.  Menepis semua kecemburuan aku pada aku dan bersenggama dengan alam sampai titik saat aku tahu bahwa aku tidak pernah berada disana namun ada di bawah sedang memandangi puncak yang seharusnya saat ini aku sudah berada disana.

Saturday, December 31, 2011

Time

How much time did you spent for breathe?
Are you walked far enough?
It only a marked sign not a maturity
We have grown old

What did you see?
Become dynamicly change
Quote for self revolution
Who are you yesterday?

Daylight never change into night without transition
It is a way
We are seeing ourselves

We were lying due to time
What did you expected?
You're alive

Love, lust or mature
Heart and mind
Numbers and words

and it keep walking on every single click

Never been too fast
Never been too slow
It constantly and consistent