Tuesday, October 21, 2014

Darimu

Darimu, tangan ini tak gentar,
mengenali dunia lain dari terbiasa,
membungkam syaraf merasakan surga.

Darimu, kaki ini melesak lebih dalam,
kendali tanpa tergopoh, diam dan ber-rima
menjejak membiasakan mengambil irama.

Darimu, mata ini sudah tak buta,
hitam tak menorehkan lagi di pupil yang kering,
melihat dan ber-makna, mengambil arti.

Darimu, bibir ini bernyanyi,
bahkan pada nada rendahpun bersuara,
berbicara pada harmoni.

Darimu, telinga ini mendengar gemericik air,
tak pernah men-dengungkan arti kebebasan,
bahkan iramanya aku kenali.

Darimu, hati ini tak berhenti berbinar,
menelisik pagi saat redup cahaya
membalut mimpi suram hari jadi terang.

Darimu, Jantung ini berdegup kencang,
bukan takut ataupun sendu terkapar lemas,
menyongsong pagi tanpa perlu ada rindu.

Darimu, darahku tidak mengental atau mencair,
dan ketahuilah sungai itu sudah tak terbendung,
menjadi suatu aliran kehidupan.

Darimu, sebagai ibu padaku,
mengandung arti dalam bahagia,
memudarkan kelabu awan di atas pelipis padaku.

Darimu, tak berhenti terkata,
suar telah menunjukan jalannya,
dan riuh pelabuhan yang sepatutnya.

Darimu, untuk siapapun aku.

Tuesday, August 12, 2014

Interlude

Ku pahat empeduku karena tak kuasa pahitku
Dingin, duduk dan diam bukan bisaku
Tidak ada kata pada seharusnya
Bukan mimpi dan gaung yang membawa senja
Jauhkah harapku ?

manusia tidak menjadi manusia
Membunuh kenyataan dengan cibiran
Penggal saja hatiku biar kepalaku masih bisa tersenyum
Aku tak mau mati berdiri !

Thursday, August 7, 2014

Mengeluh pada kehidupan? TIDAK!

Satu waktu mulut mengeluh, tanpa sadar syukur sudah mengukur, satutarikan nafas saja bisa beribu penyakit keluhan dan memperdengarkannya pada dunia, apakah kau orang hebat? 
Tidak tuan dan nyonya! satu kata saja jadi bidak diantara perang nilai menuju ikhlas menapaki dunia tanpa kau perlu sadar bahwa syukur adalah terukur dan berukir indah saat kau sadar tanpa mengeluh. Apakah ketidakpuasan menjadi nilai yang tidak dapat tergantikan dibandingkan hidup yang telah kau dapat?

Satu cangkir kopi saja jika pahit tetaplah pahit dan tidak akan berubah manis walaupun kau berikan gula, dan itu bukanlah dogma tapi alur dari hidup, sudahlah kau cukupkan saja dengan nasi sepiring tanpa seperiuk yang takkan kau habiskan! untuk apa jika hanya sekedar nilai yang kau harap menjadi pujian manusia sementara keluanmu semakin menjadi sampai kerongkonganmu kering akibat tidak sedikitpun kau nikmati hidup!

manusia adalah budak dan tuan sekaligus yang mencari JATI, bukan nilai tapi memanusiakan manusia yang sudah ada tanpa memperbudak dan bukan menTuhankan atau pula menjunjung nilai jika moral tak ada, runut jalan itu maka kau kan tahu apa yang terlupa dari pendaran sinar pagi sampai sore-mu.

DIRI adalah manusia seJATI yang memungkinkan atas dasar kemungkinan-kemungkinan manusia menjadi manusia! syukur danlam ibarat IKHLAS adalah kemutlakan dalam hidup yang penuh peluh keringan untuk menjadi manusia itu sendiri. Bekerja, berdoa, bekerja, berdoa, bekerja dan berdoa.

Tidak berhenti pula pada Ah... sudahlah, jalan itu masih panjang dengan nafas yang kau bawa Tuan dan nyonya sekalian. apa yang kau dapat dan syukuri hari ini dan apa yang kau cari dari sedikit kalimat mencari? 

Tidak di atas dan tidak dibawah adalah mengambang namun bukan tanpa berpijak sebagai prinsip dasar kaki yang menginjak tanah, yakni tanha tempat kau sendiri hidup dan itu sudahlah cukup kau nikmati dan kau syukuri bukan hanya dengan kalimat dan doa namun pikiran jugalah yang akan membawamu pada tingkatan lebih tinggi daripada manusia!

seJATInya tidak ada korban dari kemanusiaan diri sendiri jika kemanusiaan itu sendiri bermakna tunggal! DIRI senharusnya menJATI kan seJATInya manusia yang berbahasa dan bersikap pada keadaan JATI DIRI yang berisi pengenalan DIRI untuk seJATInya hidup. 

Ga ngerti?.........ga usah dibaca!


Tuesday, July 22, 2014

Kebenaran bukan dan bisa jadi Kebetulan

Tidak mencermati bagian yang harus dicermati adalah suatu rangkaian cerdas oleh karena itu dalam satu rangkaian cerdas cermat adalah mencermati secara cerdas! begitu mungkin uraian yang sesungguhnya bisa jadi sangat realistis dalam suatu masalah.

Masalah bisa jadi juga sebuah pertanyaan yang layaknya harus dijawab, tapi masalah juga tidak berarti sebuah pertanyaan yang sebenarnya membutuhkan jawaban. Apa, kenapa dan dimana (?) jelas sebuah pertanyaan terlepas dari tanda tanya yang mengikutinya namun masalah dalam hal ini adalah memperhatikan, mencermati dan mengamati, jadi jelas ini bukan sebuah pertanyaan baik dalam kaidah bahasa ataupun dalam ranah sastra. Jikalau ada yang bertanya ini apa? maka ini jawaban yang paling tepat adalah sebuah pertanyaan yang mencoba cerdas walaupun belum tentu ukuran kecerdasannya dalam mencermati.

Ada sebuah dialog tentang kebenaran yang notabene selama ini kita tahu bahwa kebenaran itu hanyalah milik Tuhan YME, menurut beberapa orang, kalo menurut saya juga mungkin akan saya iyakan karena ketaatan dan ketaqwaan jika menurut sumber darimana saya mendapat jawaban. Kebenaran tidak mempunyai keturunan pembenaran atau menjadi benar dalam versi kemanusiaan dan bahkan tidak juga kebetulan yang berarti benar dan mendapatkan awalan ke- dan -an. Dua-duanya jauh berbeda benar ya benar dan betul adalah betul, bisakah benar menjadi seperti betul yang dipakai dalam statement 'menyetujui' (?) jawaban saya bisa ya atau tidak! Sebelum menjawab kenapa kita cermati pertanyaan ini.


Pilih Benar atau salah!
Pertanyaan :

(Benar) - (Salah)  ; Yang membedakan laki-laki dan perempuan adalah jenis kelaminnya.

Jawaban : (Benar)

Laki-laki dan perempuan adalah suatu segmentasi seksual yang menjadi pembeda antara keduanya, dan tentunya memang sudah ketetapan Tuhan bahwa pembeda antara keduanya secara segmentasi seksual adalah jenis kelaminnya.
maka kalimat tersebut adalah benar dan betul! Setuju dengan pernyataan kalimat tersebut dan Benar! karena pernyataan kaliat tersebut menjadi absiolut karena melibatkan keTuhan-an.

Pilih Benar atau salah!
Pertanyaan :

(Benar) - (Salah) ; Pejabat publik yang dipilih oleh masyarakat tugasnya adalah melayani rakyat.

Jawaban : (...............)

Dalam sebuah  persepsi ata cara pandang setiap manusia tentu berbeda cara mendefinisikan tugas seorang pejabat publik, dalam suatu kalangan mungki saja akan menjawab bahwa tugasnya adalah melayani rakyat. Disisi berbeda mungkin akan berpandangan bahwa tugas pejabat publik adalah berkuasa terhadap rakyat dan pandangan lain-lain.
Apakah ini sebuah kebenaran (?) atau kebetulan (?) atau cukup benar dan betul saja ?

Betul bukanlah benar! Betul Anda setuju dengan pernyataan diatas namun belum tentu benar berdasarkan persepsinya.

Apakah menyesatkan? atau kemudian ini menjadikan hanya sebagai pemahaman saja terhadap sesuatu yang sebetulnya konseptual dan sebetulnya merupakan pembodohan untuk membahas ini. well..... monggo pikirken saotakke dewe........ sekemampuan otak Anda dalam menelaah secara cerdas dan cermat terhadap masalah ini.



Salam lelepeutan......

Friday, May 23, 2014

Kopi (Menurutmu??)

Tak usah berkelakar dengan tingkat arogansi pahit yang akan memuntahkan sebesar penyesalanmu nantinya, Jika harus bicara politik maka politik itu sendirilah sesungguhnya cara bicaramu. Bukannya sama saja jikalau semua orang berbicara adalah sebuah eksistensi ataupun pretensi bahkan retorika retorika yang awalnya adalah sebuah ekspresi kemudian memunculkan ide?

Kopi dalam takaran yang pas akan memunculkan sebuah fragmentasi rasa, kendatipun jika takarannya tidak pas.. namun satu yang perlu digarisbawahi adalah tidak ada kata berlebihan karena kata kata tersebut hanyalah kalimat absurd yang tidak akan diperdengarkan yang berefek negatif terhadap semua hal, tentu semua mengetahui hal tersebut.

Lalu apa hubungannya? Menurutmu?