Friday, January 6, 2012

Berdialog dengan cermin #3

"Siapakah kau?"
"Apa perlu kau tahu?"
"Tidak, tapi kenapa kamu disini?"
"Aku di sini tentu karena suatu hal, kau tahu mengapa?"
"Perlukah aku tahu?"

"Dimanakah aku?"
"Sebuah tempat yang kau harus tahu, tapi kenapa?"
"Untuk apa?"
"Haruskah kamu sadar?"
"Tentu, apakah kamu berpikir?"

"Kenapa?"
"Karena cinta tentunya, kau tahu mengapa?"
"Haruskah semua orang tahu?"

"Apa yang kau rasakan?"
"Apakah kau akan ikut merasakan?"
"Tidak tapi aku harus mengerti, apakah tidak boleh?"
"Aku adalah aku, kamu siapa?"
"Aku manusia, jika boleh?"
"Apakah sepenting itu?"

"Apakah aku hidup?"
"Tentu, dimanakah kamu hidup?"
"Apakah yang kamu lihat?"
"Penting?"
"Sangat! Siapakah kamu?"

"Mana batasnya?"
"Perlu kamu tahu biar sadar, apakah kamu akan berpikir?"
"Berpikir atau paham?"
"Sama sajalah, apa perenunganku?"
"Hidup?"

Thursday, January 5, 2012

Berdialog dengan cermin #2

Akulah Sang Hujan

Seorang anak berteriak histeris saat hujan datang, sepertinya enggan bertemu dengan hujan, dia bahkan tak mau menatap atau berdiri menyapaku sejak setahun lalu saat ayahnya meninggal tertimpa pohon di belakang rumahnya. Dan menurutnya akulah penyebab kematian ayahnya.

Sedalam dendam bukan hanya sebuah hati yang akan mati namun justru tak akan mati dalam sanubari. Pembawa kegelisahan sekaligus rasa benci yang diam dan menggerogoti akal dan hati.  Juga bukan sebatas nilai yang mengendap karena nilai manusia yang hanya berumur tidak lebih dari seratus tahun, jika mereka mengatakan itu adalah keseimbangan maka aku dikatakan kerisauan dan kepedihan dalam tanda hujan. 

Aku bukan seorang manusia ataupun sesuatu yang hidup dan bernyawa, aku juga tidak timbul dan berbahasa seperti pemahaman ada dan berpikir namun sempurna alam yang membuat semuanya seimbang tanpa batasan yang bersinggung dengan manusia. Bukan pengetahuan ataupun pandangan tanpa bingkai pada sekian jarak pandang.

Ketika badai datang apakah aku yang disalahkan sementara angin memang harus meniupku kencang tanpa manusia harus tahu, sehingga nanti akan datang pelangi. Ketika manusia harus bertarung dengan banjir atau buruknya sistem perairan mereka ataupun ketika pohon tua tumbang ditepi jalan, haruskah aku disalahkan? 

Ketika seseorang mati karena bencana apakah keluar dari garis ketetapan? tentu tidak. Dan seperti itulah keseimbangan berjalan saat rotasi bumi terhadap matahari, siang berganti malam. Alam bukan hanya sekedar hanya atau sebatas sesuatu tapi tempat dimana kau berdiri dan diam bahkan berlari.

Hujan bukan sedikitpun kebencian atau justru kecintaan, semua ada dalam kaitan titik horizontal  bukan garis vertikal seperti segitiga sama sisi semua ada kaitan dalam porsinya. 

Lalu siapakah anak manusia yang membenci hujan saat kejasiannya kemudian berulang dan menelantarkan penalaran bahwa letak sebuah kesalahan adalah pemahaman dan pemikiran. Siapakah hujan atau apakah hujan?. Manusia dan manusia, sebab ataupun akibat yang aplikatif dan objektif dalam pemahaman. 

Keselarasan yang berupa harmoni adalah ketika seseorang hidup maka akan ada kematian begitu pula siang yang tak pernah bertemu malam.

Berdialog dengan cermin #1

Rusdi dan Terompet tahun baru

Sebentar dalam waktuku adalah beberapa menit saat hujan malam itu selalu turun di penghujung Desember, saat semua orang meayakan waktu dan saat orang memulai rencana besar dalam hidupnya. Waktu yang sebentar itu bukan seharusnya karena semestinya ada bahkan sadar bahwa kalimat yang sewajibnya juga sudah ada sejak tahun-tahun lalu entah kalendar masehi atau tahun islam atau bahkan kalendar china sekalipun ternyata hanya merubah angka sebagai penandaan waktu terhadap rotasi bumi yang bergerak siang dan malam. Namun ternyata bukan hanya itupula seperti menuanya kulit atau pohon-pohon yang bertambah tinggi dan dinamakan dengan tumbuh. 

Rusdi hari ini membeli terompet, menurutnya dia ingin mengusir setan dengan terompet itu, padahal sehari sebelumnya Rusdi sempat merengek pada orangtuanya untuk membelikannya sebuah terompet untuk merayakan tahun baru yakni 1 Januari per tahun masehi ini di Alun-alun kota. Ibunya adalah orang yang kurang mampu namun begitupun karena kecintaannya pada anaknya maka dia pun masih menyimpan terompet bekas tahun kemarin karena ia sadar bahwa tahun ini anaknya pasti akan meminta terompet. Namun ternyata Rusdi tidak mau memakai terompet tersebut.

Rusdi beralasan bahwa tahun baru adalah terompet baru, begitupun dengan resolusi baru, rencana baru dan sebagai ajang untuk memulai hidup dalam satu tahun mendatang. Tentu karena hal ini tidak bisa dipenuhi oleh ibunya Rusdi menangis sejadi-jadinya hingga akhirnya sang Ibu harus menjual baju bekas di pasar untuk menyayangi anak semata wayangnya yang kini berusia 10 tahun itu. 

Hari itu tepat pukul 00.00 semua memeriahkan tahun baru dengan suara terompet dan kembang api yang menyala-nyala di Angkasa, semua orang bergembira dan bersuka cita, begitu juga Rusdi ditemani ibunya yang nampak murung dan cemas bergembira di Alun-alun kota. Para penjual menjajakan dagangannya, anak-anak berlari kesana kemari dengan mengundang beribu harapan bahwa tahun ini akan lebih baik dari tahun kemarin, sementara sang ibu hanya diam mengawasi Rusdi yang sedang meniup terompet tahun barunya dengan segenap tenaga yang ia miliki. Harapan sang Ibu hanya satu saat itu yakni supaya Rusdi tidak meminta jajan malam itu, maka sang Ibupun merapal do'a sebagai harapan tahun barunya. Sang Ibu tentu bahagia dengan melihat anaknya senang dan bersuka cita, terlebih saat ibunya membelikan terompet barunya seharga 15 ribu rupiah walaupun Sang Ibu masih menatap kosong untuk besok, hari esok baginya adalah sosok menakutkan karena entah bisa makan atau tidak. 

Suara kembang api masih saja menggelegar dan memberikan warna tersendiri pada pergantian tahun malam itu sepertinya tidak ada orang yang berduka dan atmosfir yang dipenuhi oleh semangat-semangat yang bercahaya dan penuh dengan tawa. 5 menit berlalu saat ibunya masih melamun menatap kosong di udara yang penuh dengan warna. Rusdi terlepas dari pandangan Ibunya, hingga semua orang berteriak histeris saat sebuah kembang api yang meledak diantara keramaian. Serta merta sang ibu mencari Rusdi namun tidak menemukannya  dan memasuki kerumunan manusia yang sedang berkumpul, Sang Ibu melihat Rusdi tergeletak bersimbah darah dengan tangan yang memegang erat terompet Tahun barunya itu.

Rusdi meninggal malam itu karena shock setelah mengambil kembang api yang meledak persis ditangannya. dan betul harapan sang Ibu, bahwa Rusdi tidak pernah meminta jajan malam itu bahkan malam keesokan harinya.


Wednesday, January 4, 2012

Harmony

Rain :
"If the sky never goes dry then what I will become, and you will never be able to see the rainbow above the sky."

Wind :
"Did you notice that me who brought you here, I'd bring the cloud to the mountain from the ocean"

Cloud :
"Well, it only a cause. Who caused rain surely I am who kept the tears along my journey and when it's come a time for me so I will drop the rain."

Mountain :
"The cloud who falling love with me, did you see how the cloud always stay close to me."

Rainbow :
"But afterall it is not about the rain isn't? see how humans are happy when the rain was stopped and off course it is about how goodness appear after bad thing which is the rain."

Time :
"What you guys talking about.. we are not human who has ego and never satisfied on things. It is our duty to keep the balance of this living creature, it is not about how good or bad are you but it always about harmony or balance. We never fight each other, the rain never fight with the storm or mountain who blocked the way.

The rain was cause a flood because of balance of this nature, the rainbow cames for a reason so human will able to learn how great is this universe with all the system which running on me as time, let human complains and we will keep on our track.

Let it be a harmony."